Sore ini hujan kembali membasahi bogor. Aku berjalan keluar minimarket tanpa memedulikan hujan membasahi tubuhku. Tiba-tiba saja seseorang mengirimkan sms untukku.
'Datang ke Mang Woke sekarang. Ada hal penting.' Ricky yang mengirimkan sms ini. AKu langsung bergegas pergi kesana. Setidaknya dia adalah 'temanku' untuk saat ini. Sudah banyak menolongku Begitu tiba disana aku tidak melihat Ricky dimeja manapun. Namun aku melihat seseorang melambaikan tangan padaku dan aku tahu siapa dia.
AKu menarik kursi tepat dihadapannya. Tampaknya dia sudah cukup lama menunggu karena lemon tea yang ia pesan sudah tinggal setengah dan sebagian esnya sudah mulai mencair.
"Dini." katanya memperkenalkan diri dengan singkat.
"Kate."
"Aku tahu. Langsung saja." Dini menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki dan melipat tangannya didada. "Apa hubunganmu dengan Ricky?"
Aku tertawa kecil."Jika ini maksud undanganmu lebih baik aku pergi."
"Aku pacarnya!" Dini mulai menunjukkan emosinya.
"Lalu?" kataku tetap tenang.
"Lalu?" Dini mengulang perkataanku dan tertawa sinis. "Jauhi dia! Aku tidak ingin kehilangan dia. Akan sangat rendah harga dirimu jika kami putus karena kehadiran orang ketiga dan itu KAMU!!"
Aku kembali tertawa. "So childish."
Dini memukul meja dengan keras. Semua orang mulai memperhatikan kami. "Sudah 4 tahun kami berhubungan. AKu tidak ingin rusak hanya karena kehadiran pelayan seperti kamu!"
"Enough!" kataku dan aku beranjak dari dudukku. Ketika aku berjalan keluar Dini menarikku dan dengan cepat tangan kanannya mendarat dipipiku. Aku terdiam untuk beberapa saat merasakan sakit akibat pukulannya. Kemudian aku menyunggingkan senyumku padanya. "Have you done?"
Aku kembali berjalan tanpa memedulikan Dini. Aku berusaha untuk tidak menangis karena aku tidak salah. 'Ibu..' teriakku dalam hati.
Ketika aku sampai kosan, aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur. Aku mengambil Hp dari saku celana dan menekan beberapa nomor dan kode panggilan internasional. Namun yang terdengar hanyalah mesin penjawab telpon. Aku memutus sambungan itu dan menutup mata berharap semua akan baik-baik saja.
Aku keluar dari rumah sakit di Jakarta. Kemudian aku berjalan ke sebuah halte bis. Aku habis melakukan check up. Para dokter menyuruhku untuk melakukan kemo. Itu memerlukan biaya yang cukup mahal sedangkan biaya untuk ke rumah sakit saja sudah cukup mahal. Aku duduk bersandar dan memejamkan mata mendengarkan hiruk pikuk suara klakson. Aku mulai membayangkan satu persatu wajah keluargaku yang mungkin tidak akan sempat bertemu lagi. Mungkin setelah tiba di kosan aku akan menulis surat untuk keluargaku. Aku membuka mata dan betapa kagetnya aku melihat sosok pria yang tengah berdiri dihadapanku saat ini. Mengenakan kemeja putih, celana hitam dan dasi biru donker. Dia melihatku dengan tatapannya yang begitu dalam. Bola matanya yang bewarna biru begitu indah saat dipandang. Aku pasti mimpi. Aku menutup mataku kembali dan membukanya tapi dia benar-benar ada dihadapanku saat ini.
Aku berdiri. Perlahan dan takut kalau ini hanyalah khayalan aku meraba pipi cowok ini, dan Real. Air mataku mulai jatuh begitu pula cowok yang sekarang berada dihadapanku ini. "Joan.."kataku.
Cowok itu mengangguk dan menggenggam tanganku.
"How can you...?" suaraku tercekat dan tidak kuasa menahan air mataku.
Ya, dia adalah saudara lelakiku tapatnya abangku. Joan memelukku dengan erat. Aku menangis terisak dipelukannya.
Joan mengajakku ke hotel tempat dia tinggal. Aku duduk di sofa dekat balkon. Sofa itu membelakangi pemandangan kota jakarta yang ketika sore hari sangat indah. Joan duduk disampingku dan sejak tadi tidak melepas genggaman tangannya. Sesekali aku sesenggukan.
"How's Mom and Dad?" kataku memulai pembicaraan.
"Fine. They miss you. Let's go home."
Aku menggeleng. "I can't. You know what Dad said. Remember?"
"At that time Dad was angry. Not now..."
"How can you find me?" aku mengalihkan pembicaraan.
"I have looked you since you went from home. I know you came to Indonesia. I have a friend here so i asked him to found you. How's Evren? Have seen?"
Aku mengangguk. "But he's gone."
"Where?"
"Died."
"What?" Joan terkejut mendengar perkataanku. "When?"
Aku menceritakan semua kejadian yang terjadi padaku. Tapi aku tidak menceritakan bagaimana keadaanku sekarang. Aku tahu dia akan khawatir dan mengatakannya pada ibuku. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.
"I'm so sorry to hear that. You look so thin now." Joan merangkulku.
"How long will you be here?"
"one week. Stay here for this night. Is it okay?"
"Of course."
Tiba-tiba saja perutku mual dan sakit. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Aku jadi ingat kata dokter, penyakitku sudah bertambah parah saat ini. Aku mencari obat di tasku dan menegaknya. Ku rebahkan tubuhku dan mencoba memejamkan mata. Untungnya Joan sedang pergi membeli makan jadi dia tidak harus melihatku seperti ini. Aku mendengar pintu kunci pintu kamar dibuka. Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan menguncinya dengan rapat. Aku menghidupkan keran dan diam disana. Cukup lama aku duduk disini menahan rasa sakit. Ketika sudah reda aku menutup keran dan keluar dari kamar mandi. Aku melihat satu kotak pizza sudah ada disana dan Joan sedang mengetik sesuatu di laptopnya.
Joan melihatku yang langsung merebahkan tubuhku dan mencoba untuk tidur.
"Not eat?"
"I'm full"