Selesai kuliah aku bersama Evren langsung pergi ke perpustakaan untuk persiapan ujian salah satu mata kuliah besok. Evren banyak membantuku ketika belajar. Ya, dia cowok yang sangat pintar. Saat pertama kali bertemu aku pikir dia adalah cowok yang angkuh, sombong, cuek tapi ternyata dia sangat baik. Selama 3 jam kami belajar di perpustakaan.
"Where will you go?" tanya Evren begitu kami keluar dari perpustakaan.
"I don't know. Go home, maybe...And you?"
"I have to pick up my mom from salon"
"Oooh, Good boy..." kataku sambil tertawa.
"Yeah, I am..." katanya membela diri.
Kemudian teleponku berdering dari nomor yang tidak aku kenal.
"Hello." kataku menjawab telpon.
"Hi, honey. It's me. You changed your number?" kata seorang cowok dari seberang telpon.
"Hon..." aku baru ingat. Pasti dia Nick yang mengira kalau aku adalah tunangannya. Aku melirik ke Evren yang masih berjalan di sampingku. "Aaaah, yup... hello.. hello.. i can't hear your.. hello..." aku langsung memutus telpon. Nick tau darimana nomorku?
"Who is it?" tanya Evren penasaran.
"aaaah, my brother... he always miss me.. I think the signal is not good anymore" kataku sambil nyengir.
Evren mengangguk. "Ok.. I have to go.. Take care ya... bye..."
"Ya, bye... Take care..." aku melambaikan tangan.
Telpon berdering kembali begitu Evren pergi. "Hello." jawabku.
"Honey, can you hear me now?"
"Ahh, yup.." jawabku.
"Where are you now? Not come in here? Are you busy now?"
"Ya,i'm on my way.."
"Ok, i'll wait you.."
"Ya, bye..." kataku langsung memutus telpon dan langsung menyetop taxi.
Sebelum masuk ke ruangan Nick aku menarik nafas panjang. Kemudian aku membuka pintu dan ada Ny. Nancy juga disana. Ia tersenyum dan aku membalas senyumnya. AKu meletakkan tasku di sofa dan kulihat Nick sudah lebih baik dari kemarin. Ia sekarang sudah bisa duduk walau masih bersandar ditempat tidur.Kemajuan yang cukup pesat, pikirku.
"Nick has been waiting since this morning.." kata Ny. Nancy begitu aku mendekat ke mereka.
Aku tersenyum. "Sorry, but i have to do something..." jawabku.
"No problem, Honey. and now you are here." Nick mengulurkan tangannya padaku. Lalu dengan kikuk aku menyambutnya.
"ok, I'm out for a while" kata Ny. Nancy dan pergi meninggalkan ruangan.
"How are you?" tanyaku pada Nick.
"As you look, I'm better now.." katanya sAmbil tersenyum.
"That's good... What have you done today?"
"Nothing. Just sit here and look my cactus. Is that from you all?"
"Ye..Yeah, of course.." jawabku berbohong lagi.
Kami terdiam sebentar. NIck tidak henti-hentinya tersenyum dan teru menatapku. Tapi aku tau, itu bukan buatku. Itu buat Sarah, tunangannya. Dari matanya aku bisa melihat begitu dalamnya rasa sayang Nick pada Sarah. Ya, ampun Nick kamu kasihan sekali, pikirku.
"What are you thinking now?" tanya Nick membuyarkan lamunanku.
Oh, My God... suaranya lembut sEkali. "Nothing..." jawabku tersenyum. "And you?"
Nick menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangannya ke kaktus-kaktus. Lalu kembali memandangku. "how lucky I can still have you and see you."
Aku tersenyum padanya. Maaf, kamu tidak beruntung, Nick... pikirku.
"Still remember your promise?"
"Promise? what promise?"
"Guest what? come on... remember it.."
Aku berpura-pura sedang berfikir. Janji apa? Mana aku tahu, hey, pikirku. "I don't remeber. come on tell me.."
Nick terlihat kecewa. "Forget it..."
"Come on... Tell me what?"
Nick menggeleng. "Hey, tomorrow will you go to park with me?"
"Sorry, but i can't.. I have to do something.."
Nick kembali kecewa. Kemudian seorang suster masuk dan tersenyum ke arah kami. Dia memeriksa Nick beberapa saat. "Sr, you have to take a rest now." Suster menurunkan sandaran tempat tidur, mamasukkan obat lewat infus dan pamit keluar.
"Maybe in other time.." kataku
"It's ok, Honey..." kata Nick sambil tersenyum. Nick beberapa kali memejamkan mata dan membukanya kembali.
"Ok, i will go.. you have to sleep now." begitu aku ingin beranjak dari sisinya, Nick menahan tanganku yang sejak tadi masih ia genggam.
"why? you need something?" tanyaku.
Nick menggeleng pelan. "Stay with me here. If you have to go, please after i sleep.."
Aku kembali duduk. "Ok.." jawabku sambil tersenyum.
"Thanks, Honey..." kata Nick dan mulai memejamkan matanya.
Tuhan, sembuhkan pria yang ada dihadapanku ini. Aku yakin dia pria baik-baik.
Setelah yakin Nick sudah tidur. Aku beranjak dan perlahan melepas genggaman tanganku. Kemudian aku keluar ruangan dan secara kebetulan aku bertemu dengan Ny. Nancy. Ny. Nancy mengajakku ke kantin menemaninya minum kopi dan berbincang-bincang sebentar.
"Thanks Fairy.. You save my son's life..." katanya memulai pembicaraan.
"It's ok, madam... I'm sure nick and sarah relationship was very good. I think Nick love Sarah so much.."
"Not good, Fairy. Nick love Sarah, but Sarah not."
AKu kaget mendengar jawaban Ny. Nancy. "Sarah wasn't love Nick? Why?"
"I don't know, Fairy. Sarah always busy with her work. He didn't have time for Nick. So they often fight. just for the sake of my son I let them engaged.I don't understand about them. It's their life, i think."
"Nick will find someone more better than Sarah, madam..."
"I hope so, Fairy"
Sebelum aku pulang, aku harus bekerja terlebih dahulu. Hari ini sungguh melelahkan. Badanku ingin rontok rasanya. Seharian berada diluar dan ditambah udara dingin yang menusuk tulang. Ketika sampai di apartemen aku membuka kembali pelajaran yang sudah aku pelajari di perpustakaan tadi siang. Selama 2 jam aku mencoba belajar. Kemudian aku memeriksa hp dan kulihat ada 2 sms masuk. Sms yang pertama dari Evren. Aku membuka dan membaca isinya, 'Good night, see you tomorrow... Fighting for our exam, ya.. ^^'. Tanpa aku sadari aku menyunggingkan senyumku selesai membacanya. Kemudian aku membuka dan membaca sms ke dua yang berasal dari Nick, 'Good night, dear... Have a nice dream... kiss and hug for you...'. Selesai membacanya, aku meletakkan hp-ku diatas meja dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
Sabtu, 24 Desember 2011
Jumat, 23 Desember 2011
When love is not in your side (part 3)
Setelah dari rumah sakit aku langsung pergi ke gym. Sebelumnya aku menelpn Sam untuk tidak perlu khawatir karena aku pergi tanpa pamit. Aku meliha jam tanganku dan aku yakin Evren sudah selesai latihan.Benar saja, begitu aku tiba, secara kebetulan Evren keluar dari gym.Aku langsung berlari kearahnya.
"Sorry, i'm late..." kataku sambil mengatur nafas.
"Oh, yeah.. It's ok. What Sam's store was crowded visitors?"
"Hmmm,,, yeah.." kataku sambil menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Kenapa aku harus berbohong?
"Have you lunch?"
Aku menggeleng. "I'll pay you"
"Really? wow.. ok., let's go.." katanya sambil menarik lenganku.
Evren mengajakku makan di Burger's shop. Aku yang memesan sedangkan Evren mencari tempat yang kosong. Burger's shop ini selalu ramai dikunjungi karena sudah terkenal rasanya yang enak dan pelayanannya yang sangat baik.
"Thanks" kata Evren begitu aku meletakkan pesanannya.
"You're welcome..." kataku sambil menarik kursi dihadapannya."Hei, can i ask you something?"
"Yeah, sure. what?"
"Hmm.. if someone or a woman ask you to help her, will you help?"
"Yeah, sure. what help's?"
"To save her son. Although you will be a lier, you will do it?" tanyaku semakin penasaran.
Evren mengerutkan keningnya. "Is something wrong happen?"
"Aaaaah, no. just ask."
Selama makan aku sejenak melupakan hal yang terjadi padaku pagi ini. Kami mengobrol mengenai banyak hal, bercanda dan lainnya. Saat keluar baru menyadari kalau hari sudah gelap. Udara dingin mulai menusuk tulang. Aku merapatkan jaketku dan sialnya lagi aku tidak membawa syal dan sarung tangan. Rasanya jari-jari tanganku akan membeku kedinginan. Sesekali aku menghembuskan kedua tanganku, melompat-lompat dan memasukkan kedua tanganku ke saku jaket. Dingin sekali. Tiba-tiba saja Evren melakukan hal yang sangat mengejutkan. Dia memasangkan kedua sarung tangannya ke tanganku dan melingkarkan syal yang ia punya ke leherku. Aku mematung dengan tindakan yang ia lakukan. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya dan berjalan mendahuluiku.
"He... Hey..." teriakku dan berusaha mengejarnya.
"Hurry up. We will take the train"
"Train? not taxi?"
"It will spend your money."
Stasiun sangat ramai. Banyak orang yang sedang menunggu kereta seperti kami. Aku lebih merapat ke Evren. Aku takut kalau kami berpisah karena aku tidak pernah naik kereta di Izmir. Begitu kereta tiba, benar saja banyak sekali orang yang masuk dan alhasil aku dihimpit oleh seorang pria dan seorang wanita bertubuh gemuk. Aaaaaaah, aku ingin turun saja, teriakku dalam hati. Evren menarik tanganku dan menyuruhku bersandar di dinding kereta dekat pintu. Evren berada tepat dihadapanku, hanya beberapa senti saja. Kemudian ia meletakkan lengannya disamping wajahku untuk melindungiku dari orang lain. Oh, my God kenapa jantungku berdegup kencang? Ini tidak boleh terjadi. Aku memejamkan mataku, dia adalah satu-satunya sahabat terbaikku di Izmir, di Ankara dan di seluruh TuRki. Mana mungkin aku menodai persahabatan hanya karena hal sepele seperti ini. Setelah aku bisa mengontrol perasaanku aku membukA kembali mataku.
"Sleepy?" tanya Evren padaku.
"aaaaah, no."
Evren mengangguk. "We will go down in next station. Be prepared"
AKu mengangguk.
Karena kami berdiri dekat pintu jadi tidak terlalu sulit untuk keluar. Aaaaah, lega sekali rasanya. Kemudian kami berjalan keluar stasiun dan berjalan ke apartemenku. Tidak terlalu jauh aku rasa jika kami berjalan.Selama berjalan Evren selalu memasukkan kedua tangannyA Disakunya. Aku jadi merasa tidak enak.
"Do you feel cold?" tanyaku.
Evren menggeleng dan tersenyum.
"you're lie." kataku pelan dan menundukkan kepala.
"I'm ok. I'm already 20 years living with snow, so don't worry."
Selama berjalan kami lebih banyak diam dan menikmati pemandangan yang ditutupi oleh putihnya salju sampai akhirnya kami tiba di depan apArtemenku.
"Go in.." kata Evren padaku.
"Ahh, wait.." kataku. Aku melepaskan sarung tangan dan syal yang ia pinjamkan padaku.Lalu aku memberikannya padanya. "Thanks a lot..." kataku.
Evren mengangguk. Lalu memasang sarung tangannya dan melingkarkan syalnya. "Ok, bye,.. see you on campus tomorrow..." katanya melambaikan tangan.
"Yeah, bye..." Lalu aku masuk dan Evren pergi meninggalkan apartemenku.
"Sorry, i'm late..." kataku sambil mengatur nafas.
"Oh, yeah.. It's ok. What Sam's store was crowded visitors?"
"Hmmm,,, yeah.." kataku sambil menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Kenapa aku harus berbohong?
"Have you lunch?"
Aku menggeleng. "I'll pay you"
"Really? wow.. ok., let's go.." katanya sambil menarik lenganku.
Evren mengajakku makan di Burger's shop. Aku yang memesan sedangkan Evren mencari tempat yang kosong. Burger's shop ini selalu ramai dikunjungi karena sudah terkenal rasanya yang enak dan pelayanannya yang sangat baik.
"Thanks" kata Evren begitu aku meletakkan pesanannya.
"You're welcome..." kataku sambil menarik kursi dihadapannya."Hei, can i ask you something?"
"Yeah, sure. what?"
"Hmm.. if someone or a woman ask you to help her, will you help?"
"Yeah, sure. what help's?"
"To save her son. Although you will be a lier, you will do it?" tanyaku semakin penasaran.
Evren mengerutkan keningnya. "Is something wrong happen?"
"Aaaaah, no. just ask."
Selama makan aku sejenak melupakan hal yang terjadi padaku pagi ini. Kami mengobrol mengenai banyak hal, bercanda dan lainnya. Saat keluar baru menyadari kalau hari sudah gelap. Udara dingin mulai menusuk tulang. Aku merapatkan jaketku dan sialnya lagi aku tidak membawa syal dan sarung tangan. Rasanya jari-jari tanganku akan membeku kedinginan. Sesekali aku menghembuskan kedua tanganku, melompat-lompat dan memasukkan kedua tanganku ke saku jaket. Dingin sekali. Tiba-tiba saja Evren melakukan hal yang sangat mengejutkan. Dia memasangkan kedua sarung tangannya ke tanganku dan melingkarkan syal yang ia punya ke leherku. Aku mematung dengan tindakan yang ia lakukan. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya dan berjalan mendahuluiku.
"He... Hey..." teriakku dan berusaha mengejarnya.
"Hurry up. We will take the train"
"Train? not taxi?"
"It will spend your money."
Stasiun sangat ramai. Banyak orang yang sedang menunggu kereta seperti kami. Aku lebih merapat ke Evren. Aku takut kalau kami berpisah karena aku tidak pernah naik kereta di Izmir. Begitu kereta tiba, benar saja banyak sekali orang yang masuk dan alhasil aku dihimpit oleh seorang pria dan seorang wanita bertubuh gemuk. Aaaaaaah, aku ingin turun saja, teriakku dalam hati. Evren menarik tanganku dan menyuruhku bersandar di dinding kereta dekat pintu. Evren berada tepat dihadapanku, hanya beberapa senti saja. Kemudian ia meletakkan lengannya disamping wajahku untuk melindungiku dari orang lain. Oh, my God kenapa jantungku berdegup kencang? Ini tidak boleh terjadi. Aku memejamkan mataku, dia adalah satu-satunya sahabat terbaikku di Izmir, di Ankara dan di seluruh TuRki. Mana mungkin aku menodai persahabatan hanya karena hal sepele seperti ini. Setelah aku bisa mengontrol perasaanku aku membukA kembali mataku.
"Sleepy?" tanya Evren padaku.
"aaaaah, no."
Evren mengangguk. "We will go down in next station. Be prepared"
AKu mengangguk.
Karena kami berdiri dekat pintu jadi tidak terlalu sulit untuk keluar. Aaaaah, lega sekali rasanya. Kemudian kami berjalan keluar stasiun dan berjalan ke apartemenku. Tidak terlalu jauh aku rasa jika kami berjalan.Selama berjalan Evren selalu memasukkan kedua tangannyA Disakunya. Aku jadi merasa tidak enak.
"Do you feel cold?" tanyaku.
Evren menggeleng dan tersenyum.
"you're lie." kataku pelan dan menundukkan kepala.
"I'm ok. I'm already 20 years living with snow, so don't worry."
Selama berjalan kami lebih banyak diam dan menikmati pemandangan yang ditutupi oleh putihnya salju sampai akhirnya kami tiba di depan apArtemenku.
"Go in.." kata Evren padaku.
"Ahh, wait.." kataku. Aku melepaskan sarung tangan dan syal yang ia pinjamkan padaku.Lalu aku memberikannya padanya. "Thanks a lot..." kataku.
Evren mengangguk. Lalu memasang sarung tangannya dan melingkarkan syalnya. "Ok, bye,.. see you on campus tomorrow..." katanya melambaikan tangan.
"Yeah, bye..." Lalu aku masuk dan Evren pergi meninggalkan apartemenku.
Kamis, 22 Desember 2011
When love is not in your side (part 2)
Hari Minggu pagi, aku langsung meluncur ke toko Sam. Tidak ada yang bisa aku lakukan jika aku berada terus di apartemen. Kemudian siang nanti aku akan pergi ke gym untuk melihat Evren berlatih basket. Yup, untuk sementara ini jadwal untuk hari ini cukup itu dulu. Aku berjalan dengan santai sambil menikmati dinginnya pagi ini. Dari kejauhan aku sudah bisa melihat Sam yang baru saja membuka tokonya. Aku berlari kecil menghampirinya.
"Morning!" sapaku
"Oh, hi deaR..." balasnya setengah kaget dengan kedatanganku. "Are you ready to send some flowers again?"
"Sure." jawabku pasti.
"Seems i'm late"
Aku menoleh dan kulihat Luna masih berpakaian rapi masuk ke toko melewati aku dan Sam.
"No, you're not." kataku merangkul pundaknya.
Kemudian aku membantu menyirami bunga-bunga milik Sam, merapikan mereka agar terlihat lebih cantik. Sam sibuk melihat daftar bunga yang harus ia kirimkan sedangkan Luna merangkai dan menyiapkan bunga-bunga yang telah dipesan.
"Excuse me..." sapa seseorang dari luar.
Aku langsung menghampirinya. Seorang ibu setengah baya dan aku sering melihatnya. Ya, dia adalah ibu yang sering aku temui di rumah sakit ketika aku harus mengantarkan kaktus.
"Do you wanna order cactus again?"
"No, ah... i mean yeah.." katanya tampak ragu.
"Hmm.. if you are not, you can order other flowers..."
"No, actually, I..." dari raut wajahnya ia tampak bingung. "Can we talk face to face?"
Aku sedikit bingung. Aku melihat kedalam toko dan sepertinya Sam dan Luna tidak menyadari kedatangan ibu ini. "Ok" jawabku.
Ibu ini berjalan meninggalkan toko. Tanpa pamit dengan Sam aku mengikutinya. Ibu ini akhirnya duduk dibangku taman kota. Aku ikut duduk disampingnya. Untuk beberapa menit kami hanya diam dan aku terus menunggu apa yang ingin dibicarakannya.
Aku melihat dia membuka tas tangannya dan mengambil sebuah foto. Ia pandangi sebentar lalu menyerahkannya padaku. Seorang pria yang tersenyum manis dan didampingi seorang wanita cantik yang juga tersenyum. Aku yakin pria ini yang sedang berada di rumah sakit tetapi kalau wanita ini... Oh, my God... It's me? Wanita ini mirip sekali denganku. Hanya saja dia lebih cantik dan lebih terawat. Aku menyerahkan kembali foto itu sambil bergidik.
"He is my lovely son." kata ibu ini membuka pembicaraan.
"In hospital...?"
"And she is his fiance" aku mendengar suaranya mulai bergetar.
"2 months ago, they have an accident. She died and my son is coma until now." ibu ini menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ceritanya. "Yesterday, my son wake up. he always asked where is his fiance and he won't receiving treatment if he can't meet her." Ibu ini mulai terisak.
Aku mengelus-elus pundaknya dan berusaha menenangkannya.
"I beg you, would you pretend to be her fiance?" ibu ini menggenggam erat tanganku.
"What? Sorry, but i can't..." kataku berusaha melepas genggamannya.
"Please...I just want to see my son back to life"
Aku menggeleng. "Sorry, but i can't madam..."
Ibu ini melepas genggamannya dan menangis terisak. Oh my God, kasihan sekali dia. Tapi aku tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu.
"Please, save my son..."
AKu terdiam melihatnya seperti ini. Bagaimana kalau dia ibumu? "Ok.." akhirnya aku setuju. Semoga keputusan yang tepat, pikirku. "But i'll do it until your son recovered from his illness."
"Thank you... thank you... I'm promise..." katanya senang sambil menggenggam kemabali erat tanganku. "So, may i know your name?"
"I'm Fairy..."
"I'm Nancy. Now, i will tell you about my son and his fiance, will I?"
"Yeah, tell me..."
"My son is Nick and his fiance is Sarah. You have been engaged for 10 months."
"Ok, what Sarah do in her life?"
"She was designer. I think that's enough. Can we go to hospital now?"
"now?" tanyaku kaget.
"Yup... why? Come on.." Ny. Nancy menarikku mengikutinya. Dia memanggil sebuah taxi dan memaksaku ikut dengannya.
Akhirnya kami sampai di depan kamar Nick. Jantungku berdegup kencang. Kali ini aku harus berbohong dengan orang yang tidak aku kenal. Berbohong dengan alasan kebaikan. Apakah itu benar ada? Yup, itulah yang terjadi padaku sekarang. Ny. Nancy membuka pintu dan menyuruhku masuk. Aku masuk dengan langkah kaki yang berat.
"Dear, look here. Look who coming..."
Nick melihat kearahku. Wajahnya masih pucat dan aku yakin dia kaget melihat kedatanganku.
"Sarah, come here..." kata Ny. Nancy menyuruhku mendekat ke Nick.
Aku mendekat dan aku bisa melihat dengan jelas mata Nick yang sebiru laut sekarang berkaca-kaca melihatku. "Are you alright, honey? Nothing happen to you?" kini pipinya basah dengan airmatanya sendiri.
"Ah, yeah... I'm ok... you can see, right?" kataku berusaha tersenyum.
Nick berusaha mengangkat tangannya. Aku menyambutnya dan aku bisa melihat dia kini tersenyum.
"You have to get better soon" kataku.
"I'm promise.. Thanks God, You save my girl, my only girl." Nick menarik tanganku dan meletakkannya di dadanya. Kemudian ia memejamkan matanya.
Oh, Tuhan... Aku ingin menangis melihat kejadian ini.
"Morning!" sapaku
"Oh, hi deaR..." balasnya setengah kaget dengan kedatanganku. "Are you ready to send some flowers again?"
"Sure." jawabku pasti.
"Seems i'm late"
Aku menoleh dan kulihat Luna masih berpakaian rapi masuk ke toko melewati aku dan Sam.
"No, you're not." kataku merangkul pundaknya.
Kemudian aku membantu menyirami bunga-bunga milik Sam, merapikan mereka agar terlihat lebih cantik. Sam sibuk melihat daftar bunga yang harus ia kirimkan sedangkan Luna merangkai dan menyiapkan bunga-bunga yang telah dipesan.
"Excuse me..." sapa seseorang dari luar.
Aku langsung menghampirinya. Seorang ibu setengah baya dan aku sering melihatnya. Ya, dia adalah ibu yang sering aku temui di rumah sakit ketika aku harus mengantarkan kaktus.
"Do you wanna order cactus again?"
"No, ah... i mean yeah.." katanya tampak ragu.
"Hmm.. if you are not, you can order other flowers..."
"No, actually, I..." dari raut wajahnya ia tampak bingung. "Can we talk face to face?"
Aku sedikit bingung. Aku melihat kedalam toko dan sepertinya Sam dan Luna tidak menyadari kedatangan ibu ini. "Ok" jawabku.
Ibu ini berjalan meninggalkan toko. Tanpa pamit dengan Sam aku mengikutinya. Ibu ini akhirnya duduk dibangku taman kota. Aku ikut duduk disampingnya. Untuk beberapa menit kami hanya diam dan aku terus menunggu apa yang ingin dibicarakannya.
Aku melihat dia membuka tas tangannya dan mengambil sebuah foto. Ia pandangi sebentar lalu menyerahkannya padaku. Seorang pria yang tersenyum manis dan didampingi seorang wanita cantik yang juga tersenyum. Aku yakin pria ini yang sedang berada di rumah sakit tetapi kalau wanita ini... Oh, my God... It's me? Wanita ini mirip sekali denganku. Hanya saja dia lebih cantik dan lebih terawat. Aku menyerahkan kembali foto itu sambil bergidik.
"He is my lovely son." kata ibu ini membuka pembicaraan.
"In hospital...?"
"And she is his fiance" aku mendengar suaranya mulai bergetar.
"2 months ago, they have an accident. She died and my son is coma until now." ibu ini menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ceritanya. "Yesterday, my son wake up. he always asked where is his fiance and he won't receiving treatment if he can't meet her." Ibu ini mulai terisak.
Aku mengelus-elus pundaknya dan berusaha menenangkannya.
"I beg you, would you pretend to be her fiance?" ibu ini menggenggam erat tanganku.
"What? Sorry, but i can't..." kataku berusaha melepas genggamannya.
"Please...I just want to see my son back to life"
Aku menggeleng. "Sorry, but i can't madam..."
Ibu ini melepas genggamannya dan menangis terisak. Oh my God, kasihan sekali dia. Tapi aku tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu.
"Please, save my son..."
AKu terdiam melihatnya seperti ini. Bagaimana kalau dia ibumu? "Ok.." akhirnya aku setuju. Semoga keputusan yang tepat, pikirku. "But i'll do it until your son recovered from his illness."
"Thank you... thank you... I'm promise..." katanya senang sambil menggenggam kemabali erat tanganku. "So, may i know your name?"
"I'm Fairy..."
"I'm Nancy. Now, i will tell you about my son and his fiance, will I?"
"Yeah, tell me..."
"My son is Nick and his fiance is Sarah. You have been engaged for 10 months."
"Ok, what Sarah do in her life?"
"She was designer. I think that's enough. Can we go to hospital now?"
"now?" tanyaku kaget.
"Yup... why? Come on.." Ny. Nancy menarikku mengikutinya. Dia memanggil sebuah taxi dan memaksaku ikut dengannya.
Akhirnya kami sampai di depan kamar Nick. Jantungku berdegup kencang. Kali ini aku harus berbohong dengan orang yang tidak aku kenal. Berbohong dengan alasan kebaikan. Apakah itu benar ada? Yup, itulah yang terjadi padaku sekarang. Ny. Nancy membuka pintu dan menyuruhku masuk. Aku masuk dengan langkah kaki yang berat.
"Dear, look here. Look who coming..."
Nick melihat kearahku. Wajahnya masih pucat dan aku yakin dia kaget melihat kedatanganku.
"Sarah, come here..." kata Ny. Nancy menyuruhku mendekat ke Nick.
Aku mendekat dan aku bisa melihat dengan jelas mata Nick yang sebiru laut sekarang berkaca-kaca melihatku. "Are you alright, honey? Nothing happen to you?" kini pipinya basah dengan airmatanya sendiri.
"Ah, yeah... I'm ok... you can see, right?" kataku berusaha tersenyum.
Nick berusaha mengangkat tangannya. Aku menyambutnya dan aku bisa melihat dia kini tersenyum.
"You have to get better soon" kataku.
"I'm promise.. Thanks God, You save my girl, my only girl." Nick menarik tanganku dan meletakkannya di dadanya. Kemudian ia memejamkan matanya.
Oh, Tuhan... Aku ingin menangis melihat kejadian ini.
Rabu, 21 Desember 2011
When love is not in your side (part 1)
Mungkin aku termasuk satu-satunya gadis yang paling beruntung di keluargaku sendiri. Bagaimana tidak? Selain aku memang satu-satunya anak cewek tetapi di usiaku yang sekarang, 20 tahun, aku sudah bisa menginjakkan kakiku di Turkey. Aku menerima beasiswa dan ini tahun pertamaku di Turkey. Aku diterima di Ankara University, dengan major Fizik mühendisliği.
Aku tinggal disebuah apartemen kecil di sekitar Ankara. Sekitar 5 menit jika berjalan kaki menuju Ankara. Selain itu, hal yang paling menyenangkan adalah akhirnya tahun ini aku bisa merasakan salju, membuat manusia salju dan melakukan hal lainnya yang selama ini hanya bisa dilihat di TV. Untuk menambah uang saku, setiap pulang kuliah aku kerja part time di sebuah toko kue.
Pagi ini, aku harus bersiap untuk ke kampus. Dari jendela apartemen, yang bisa terlihat hanyalah jalan raya dan gedung-gedung yang tertutup salju. Aku menebak pasti udara diluar sana cukup membuat tulang-tulang membeku jika tidak menggunakan sweater, sarung tangan dan pakaian lainnya yang bisa menghambat udara dingin menyentuh tubuh.
Pukul 8 tepat, aku keluar dari apartemen dan berjalan menuju kampus.
"Hi, Sam..." sapaku kepada seorang kakek pemilik toko bunga.
"Hi, dear.. Have a nice day..." balasnya sambil melambaikan tangan kearahku.
"Have a nice day too... " aku membalas lambaian tangannya sambil tersenyum.
Sam sudah kuanggap kakekku sendiri. Sam sering memberiku setangkai mawar putih setiap aku berkunjung ke tokonya.
"Hi, Fairy!!" seseorang menyapaku dari kejauhan begitu aku memasuki gedung Ankara. Aku menoleh kearah datangnya suara. Seorang cowok berlari kecil mendekat kearahku.
"Hi, Evren.."balasku. Evren adalah sahabatku di sini. Dia sering membantuku dalam pelajaran dan bergaul. "Very cold today.." kataku sambil bergiidk.
Evren hanya mengangguk. "Today i have to practice basketball so i'll be late to your cafe..."
"Nevermind, today i'm off so i will help Sam in his shop."
"Really? So when i can try your new recipe cup cake? you have promised with me."
"mmm..." aku berfikir sejenak. "Maybe a day after tomorrow because i will make it for Sam too. How?"
"It's ok." jawabnya sambil tersenyum.
Begitu selesai kuliah, aku langsung pergi ke toko Sam. Aku sering membantunya dan tentunya tanpa imbalan apapun.
"Sam!!" teriakku begitu aku sampai di depan tokonya.
"Hey, you come! Come in, come in, dear..."
Begitu masuk ke tokonya aku sudah bisa mencium wangi berbagai macam bunga dan sangat indah. "Hi, Luna" sapaku pada salah seorang karyawannya.
"Hi, Fairy.."
Aku melihat Sam dan Luna yang sibuk merangkai beberapa bunga. Aku mendekati Luna, "Are you busy now? What can i help?" Aku meletakkan tasku di kursi depan Luna.
"Mmmm.." Luna melihat sekitar. "Can you send this cactus to this address?"
Aku menerima sebuah kartu nama dan memerhatikan alamatnya.
"Don't ask her to send it. She don't know where is it." kata Sam muncul dari ruangannya.
Aku tertawa kecil. "No problem, i think i know. 2 blocks from here, right?"
"Are you sure?" tanya Sam tidak yakin.
"Of course. Sam, Luna don't worry. I'll be back!" kataku.
"Take care, Fairy. Call me if something happened" teriak Luna. Aku melambaikan tanganku padanya.
Sebuah kaktus kecil di pot yang lucu. Aku heran kenapa masih ada orang yang menyukai kaktus. Aku tidak menyukainya, tidak menarik sama sekali.
Selama 20 menit aku berkeliling dan akhirnya menemukan sebuah gedung rumah sakit. Rumah Sakit? Aku kembali membaca kartunya. Dan betapa bodohnya aku, sudah sangat jelas tertulis bahwa itu merupakan alamat rumah sakit. Aku memukul kepalaku pelan dan dengan langkah pasti masuk ke dalamnya. Rumah sakit yang cukup besar bahkan sangat besar. Apa ini rumah sakit terbesar di Izmir? Aku kembali teringat dengan tugasku dan buru-buru mencari nomor kamarnya.
Aku tiba di depan sebuah kamar 20 dengan nama Azmir. Aku mengetuk pintu dan membuka pintu secara perlahan. Begitu aku memasuki kamar ini, aku terkejut melihat banyaknya kaktus kecil dan beberapa bunga lainnya. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi adalah orang yang sedang dirawat adalah seorang pria. Dia tidur dengan damai dan yang kulihat begitu banyak selang-selang di badannya. Apakah dia coma? Ntahlah. Aku melihat sekeliling dimana aku bisa meletakkan kaktus yang baru. Aku melihat ada tempat kosong dekat jendela. Aku meletakkannya disana dan begitu aku ingin keluar, aku mendengar seseorang masuk.
Seorang ibu tengah baya, dengan tampilan yang sedikit berantakan. Aku bisa melihat matanya yang merah dan sembab. Begitu melihatku, aku tahu dia cukup kaget. Aku tersenyum padanya.
"Sorry, i just delivered a cactus of your order."
"Oh, yeah.." Dia mengalihkan pandangannya dariku. Kemudian berjalan mendekat ke pasien yang aku pikir adalah anaknya.
"So, i go first..." kataku.
"Ah, yeah... Thank you.."
Aku berjalan meninggalkan ruangan itu.
Hari ini setelah pulang dari kampus, aku langsung pergi ke tempat aku bekerja. Jam kerjaku dari pukul 3 sore hingga pukul 9 malam. Toko kue ini tidak terlalu besar sehingga yang menjaga kasir cukup seorang saja. Hari ini cukup banyak pembeli dan tidak terasa sudah pukul 9 malam. Aku memasang kata "close" dipintu dan mulai membereskan toko. Kemudian aku mendengar pintu toko dibuka.
"Sorry, we have clos..." aku cukup kaget melihat Evren berdiri disana.
"Hi.." katanya melambaikan tangan.
"What are you doing here?"
"Give me the best your coffee and your cup cake." katanya duduk di salah satu meja yang sudah aku bersihkan.
"Ok, cause you are my special guest, wait a minute."
Aku kembali ke dapur dan menyiapkan secangkir kopi hangat dan beberapa cup cake. Kemudian aku membawanya ke Evren.
"Thanks" katanya sambil tersenyum.
Aku duduk dihadapannya dan memandanginya dengan seksama. Aku tidak ingin bertanya mengapa tiba-tiba dia berada disini. Seingat aku, aku akan memberinya cup cake besok.
"What?" katanya menyadari aku sedang menunggu suatu pernyataan.
"I don't know. You look weird"
Evren hanya tertawa dan kembali menikmati kue serta kopinya.
Aku tinggal disebuah apartemen kecil di sekitar Ankara. Sekitar 5 menit jika berjalan kaki menuju Ankara. Selain itu, hal yang paling menyenangkan adalah akhirnya tahun ini aku bisa merasakan salju, membuat manusia salju dan melakukan hal lainnya yang selama ini hanya bisa dilihat di TV. Untuk menambah uang saku, setiap pulang kuliah aku kerja part time di sebuah toko kue.
Pagi ini, aku harus bersiap untuk ke kampus. Dari jendela apartemen, yang bisa terlihat hanyalah jalan raya dan gedung-gedung yang tertutup salju. Aku menebak pasti udara diluar sana cukup membuat tulang-tulang membeku jika tidak menggunakan sweater, sarung tangan dan pakaian lainnya yang bisa menghambat udara dingin menyentuh tubuh.
Pukul 8 tepat, aku keluar dari apartemen dan berjalan menuju kampus.
"Hi, Sam..." sapaku kepada seorang kakek pemilik toko bunga.
"Hi, dear.. Have a nice day..." balasnya sambil melambaikan tangan kearahku.
"Have a nice day too... " aku membalas lambaian tangannya sambil tersenyum.
Sam sudah kuanggap kakekku sendiri. Sam sering memberiku setangkai mawar putih setiap aku berkunjung ke tokonya.
"Hi, Fairy!!" seseorang menyapaku dari kejauhan begitu aku memasuki gedung Ankara. Aku menoleh kearah datangnya suara. Seorang cowok berlari kecil mendekat kearahku.
"Hi, Evren.."balasku. Evren adalah sahabatku di sini. Dia sering membantuku dalam pelajaran dan bergaul. "Very cold today.." kataku sambil bergiidk.
Evren hanya mengangguk. "Today i have to practice basketball so i'll be late to your cafe..."
"Nevermind, today i'm off so i will help Sam in his shop."
"Really? So when i can try your new recipe cup cake? you have promised with me."
"mmm..." aku berfikir sejenak. "Maybe a day after tomorrow because i will make it for Sam too. How?"
"It's ok." jawabnya sambil tersenyum.
Begitu selesai kuliah, aku langsung pergi ke toko Sam. Aku sering membantunya dan tentunya tanpa imbalan apapun.
"Sam!!" teriakku begitu aku sampai di depan tokonya.
"Hey, you come! Come in, come in, dear..."
Begitu masuk ke tokonya aku sudah bisa mencium wangi berbagai macam bunga dan sangat indah. "Hi, Luna" sapaku pada salah seorang karyawannya.
"Hi, Fairy.."
Aku melihat Sam dan Luna yang sibuk merangkai beberapa bunga. Aku mendekati Luna, "Are you busy now? What can i help?" Aku meletakkan tasku di kursi depan Luna.
"Mmmm.." Luna melihat sekitar. "Can you send this cactus to this address?"
Aku menerima sebuah kartu nama dan memerhatikan alamatnya.
"Don't ask her to send it. She don't know where is it." kata Sam muncul dari ruangannya.
Aku tertawa kecil. "No problem, i think i know. 2 blocks from here, right?"
"Are you sure?" tanya Sam tidak yakin.
"Of course. Sam, Luna don't worry. I'll be back!" kataku.
"Take care, Fairy. Call me if something happened" teriak Luna. Aku melambaikan tanganku padanya.
Sebuah kaktus kecil di pot yang lucu. Aku heran kenapa masih ada orang yang menyukai kaktus. Aku tidak menyukainya, tidak menarik sama sekali.
Selama 20 menit aku berkeliling dan akhirnya menemukan sebuah gedung rumah sakit. Rumah Sakit? Aku kembali membaca kartunya. Dan betapa bodohnya aku, sudah sangat jelas tertulis bahwa itu merupakan alamat rumah sakit. Aku memukul kepalaku pelan dan dengan langkah pasti masuk ke dalamnya. Rumah sakit yang cukup besar bahkan sangat besar. Apa ini rumah sakit terbesar di Izmir? Aku kembali teringat dengan tugasku dan buru-buru mencari nomor kamarnya.
Aku tiba di depan sebuah kamar 20 dengan nama Azmir. Aku mengetuk pintu dan membuka pintu secara perlahan. Begitu aku memasuki kamar ini, aku terkejut melihat banyaknya kaktus kecil dan beberapa bunga lainnya. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi adalah orang yang sedang dirawat adalah seorang pria. Dia tidur dengan damai dan yang kulihat begitu banyak selang-selang di badannya. Apakah dia coma? Ntahlah. Aku melihat sekeliling dimana aku bisa meletakkan kaktus yang baru. Aku melihat ada tempat kosong dekat jendela. Aku meletakkannya disana dan begitu aku ingin keluar, aku mendengar seseorang masuk.
Seorang ibu tengah baya, dengan tampilan yang sedikit berantakan. Aku bisa melihat matanya yang merah dan sembab. Begitu melihatku, aku tahu dia cukup kaget. Aku tersenyum padanya.
"Sorry, i just delivered a cactus of your order."
"Oh, yeah.." Dia mengalihkan pandangannya dariku. Kemudian berjalan mendekat ke pasien yang aku pikir adalah anaknya.
"So, i go first..." kataku.
"Ah, yeah... Thank you.."
Aku berjalan meninggalkan ruangan itu.
Hari ini setelah pulang dari kampus, aku langsung pergi ke tempat aku bekerja. Jam kerjaku dari pukul 3 sore hingga pukul 9 malam. Toko kue ini tidak terlalu besar sehingga yang menjaga kasir cukup seorang saja. Hari ini cukup banyak pembeli dan tidak terasa sudah pukul 9 malam. Aku memasang kata "close" dipintu dan mulai membereskan toko. Kemudian aku mendengar pintu toko dibuka.
"Sorry, we have clos..." aku cukup kaget melihat Evren berdiri disana.
"Hi.." katanya melambaikan tangan.
"What are you doing here?"
"Give me the best your coffee and your cup cake." katanya duduk di salah satu meja yang sudah aku bersihkan.
"Ok, cause you are my special guest, wait a minute."
Aku kembali ke dapur dan menyiapkan secangkir kopi hangat dan beberapa cup cake. Kemudian aku membawanya ke Evren.
"Thanks" katanya sambil tersenyum.
Aku duduk dihadapannya dan memandanginya dengan seksama. Aku tidak ingin bertanya mengapa tiba-tiba dia berada disini. Seingat aku, aku akan memberinya cup cake besok.
"What?" katanya menyadari aku sedang menunggu suatu pernyataan.
"I don't know. You look weird"
Evren hanya tertawa dan kembali menikmati kue serta kopinya.
Kamis, 08 Desember 2011
God...
i have a snowman...
Snowman will melt if winter has ended...
from my heart, i hope winter is coming until i die..
So i can see my snowman or at least i can feel his presence in my life..
though someday i have to go to somewhere and i have to leave him alone in my yard, but i want to believe that he will stay there if i go back...
God...
Is my feelings too much?
I should not like this...
I know if winter is over so i should be ready when my snowman will melt...
I can't imagine it...
my tears will fall if i imagine that...
What should i do?
i wish when i had finished write, i'm ready to lost my snowman..
i have a snowman...
Snowman will melt if winter has ended...
from my heart, i hope winter is coming until i die..
So i can see my snowman or at least i can feel his presence in my life..
though someday i have to go to somewhere and i have to leave him alone in my yard, but i want to believe that he will stay there if i go back...
God...
Is my feelings too much?
I should not like this...
I know if winter is over so i should be ready when my snowman will melt...
I can't imagine it...
my tears will fall if i imagine that...
What should i do?
i wish when i had finished write, i'm ready to lost my snowman..
Minggu, 11 September 2011
Who are you?
Hari kamis, 8 September 2011
That day, i was in PITP and because the time to pray has come so i went to toilet and wudhu..
After that, i went to second floor and i looked down.. I looked a man who looked me too..
I didn't know who is he and that time i was wearing mukena so slowly...
He came and pulled rug in front of my rug and he stand up there..
at first, i thought he has started,,
But after i finished wearing mukena, he looked me and spontaneously i said "ya udah (yes, i'm ready)"...
Oh, God...
A man like him took me with him to sholat berjamaah...
I think he is not 'ikhwan'..
he is seems like 'orang gaol'...
And until today i don't know who is he..
So i hope i will meet him in another time...
That day, i was in PITP and because the time to pray has come so i went to toilet and wudhu..
After that, i went to second floor and i looked down.. I looked a man who looked me too..
I didn't know who is he and that time i was wearing mukena so slowly...
He came and pulled rug in front of my rug and he stand up there..
at first, i thought he has started,,
But after i finished wearing mukena, he looked me and spontaneously i said "ya udah (yes, i'm ready)"...
Oh, God...
A man like him took me with him to sholat berjamaah...
I think he is not 'ikhwan'..
he is seems like 'orang gaol'...
And until today i don't know who is he..
So i hope i will meet him in another time...
Langganan:
Postingan (Atom)