Eheem... Eheeem...
Tulisan kali ini bukan sebuah cerpen pada sebelum-sebelumnya. Oke, cerpen yang ga pernah selesai. Hahahahaha...
Tulisan kali ini tentang aku yang aku juga ga ngerti sebenarnya. Oke, let's star from I joined in BTA Group. Ok, 2 months ago, I joined in BTA (a bimbel and i was a physic teacher in Citra Buana school which has many students (China, Indonesian and West) and Madania, a favorite school in Bogor). In first day, I was teaching in Citra Buana and i was so surprosed because they use English for communication. It's ok (Challenge for me and i did it). But day to day, i felt not comfort, i have many schedule, many tasks, and i was often sick. Because of that i resigned (Horeeee...)
And now i miss them. My student, Lincoln, Danang, Ylang ylang, Amara, et al. Will I meet them again? In different situations of course! Huaaaa,,, I left them without any words... Hope you will be doing well guys...
Selasa, 20 Maret 2012
Minggu, 15 Januari 2012
Sore ini hujan kembali membasahi bogor. Aku berjalan keluar minimarket tanpa memedulikan hujan membasahi tubuhku. Tiba-tiba saja seseorang mengirimkan sms untukku.
'Datang ke Mang Woke sekarang. Ada hal penting.' Ricky yang mengirimkan sms ini. AKu langsung bergegas pergi kesana. Setidaknya dia adalah 'temanku' untuk saat ini. Sudah banyak menolongku Begitu tiba disana aku tidak melihat Ricky dimeja manapun. Namun aku melihat seseorang melambaikan tangan padaku dan aku tahu siapa dia.
AKu menarik kursi tepat dihadapannya. Tampaknya dia sudah cukup lama menunggu karena lemon tea yang ia pesan sudah tinggal setengah dan sebagian esnya sudah mulai mencair.
"Dini." katanya memperkenalkan diri dengan singkat.
"Kate."
"Aku tahu. Langsung saja." Dini menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki dan melipat tangannya didada. "Apa hubunganmu dengan Ricky?"
Aku tertawa kecil."Jika ini maksud undanganmu lebih baik aku pergi."
"Aku pacarnya!" Dini mulai menunjukkan emosinya.
"Lalu?" kataku tetap tenang.
"Lalu?" Dini mengulang perkataanku dan tertawa sinis. "Jauhi dia! Aku tidak ingin kehilangan dia. Akan sangat rendah harga dirimu jika kami putus karena kehadiran orang ketiga dan itu KAMU!!"
Aku kembali tertawa. "So childish."
Dini memukul meja dengan keras. Semua orang mulai memperhatikan kami. "Sudah 4 tahun kami berhubungan. AKu tidak ingin rusak hanya karena kehadiran pelayan seperti kamu!"
"Enough!" kataku dan aku beranjak dari dudukku. Ketika aku berjalan keluar Dini menarikku dan dengan cepat tangan kanannya mendarat dipipiku. Aku terdiam untuk beberapa saat merasakan sakit akibat pukulannya. Kemudian aku menyunggingkan senyumku padanya. "Have you done?"
Aku kembali berjalan tanpa memedulikan Dini. Aku berusaha untuk tidak menangis karena aku tidak salah. 'Ibu..' teriakku dalam hati.
Ketika aku sampai kosan, aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur. Aku mengambil Hp dari saku celana dan menekan beberapa nomor dan kode panggilan internasional. Namun yang terdengar hanyalah mesin penjawab telpon. Aku memutus sambungan itu dan menutup mata berharap semua akan baik-baik saja.
Aku keluar dari rumah sakit di Jakarta. Kemudian aku berjalan ke sebuah halte bis. Aku habis melakukan check up. Para dokter menyuruhku untuk melakukan kemo. Itu memerlukan biaya yang cukup mahal sedangkan biaya untuk ke rumah sakit saja sudah cukup mahal. Aku duduk bersandar dan memejamkan mata mendengarkan hiruk pikuk suara klakson. Aku mulai membayangkan satu persatu wajah keluargaku yang mungkin tidak akan sempat bertemu lagi. Mungkin setelah tiba di kosan aku akan menulis surat untuk keluargaku. Aku membuka mata dan betapa kagetnya aku melihat sosok pria yang tengah berdiri dihadapanku saat ini. Mengenakan kemeja putih, celana hitam dan dasi biru donker. Dia melihatku dengan tatapannya yang begitu dalam. Bola matanya yang bewarna biru begitu indah saat dipandang. Aku pasti mimpi. Aku menutup mataku kembali dan membukanya tapi dia benar-benar ada dihadapanku saat ini.
Aku berdiri. Perlahan dan takut kalau ini hanyalah khayalan aku meraba pipi cowok ini, dan Real. Air mataku mulai jatuh begitu pula cowok yang sekarang berada dihadapanku ini. "Joan.."kataku.
Cowok itu mengangguk dan menggenggam tanganku.
"How can you...?" suaraku tercekat dan tidak kuasa menahan air mataku.
Ya, dia adalah saudara lelakiku tapatnya abangku. Joan memelukku dengan erat. Aku menangis terisak dipelukannya.
Joan mengajakku ke hotel tempat dia tinggal. Aku duduk di sofa dekat balkon. Sofa itu membelakangi pemandangan kota jakarta yang ketika sore hari sangat indah. Joan duduk disampingku dan sejak tadi tidak melepas genggaman tangannya. Sesekali aku sesenggukan.
"How's Mom and Dad?" kataku memulai pembicaraan.
"Fine. They miss you. Let's go home."
Aku menggeleng. "I can't. You know what Dad said. Remember?"
"At that time Dad was angry. Not now..."
"How can you find me?" aku mengalihkan pembicaraan.
"I have looked you since you went from home. I know you came to Indonesia. I have a friend here so i asked him to found you. How's Evren? Have seen?"
Aku mengangguk. "But he's gone."
"Where?"
"Died."
"What?" Joan terkejut mendengar perkataanku. "When?"
Aku menceritakan semua kejadian yang terjadi padaku. Tapi aku tidak menceritakan bagaimana keadaanku sekarang. Aku tahu dia akan khawatir dan mengatakannya pada ibuku. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.
"I'm so sorry to hear that. You look so thin now." Joan merangkulku.
"How long will you be here?"
"one week. Stay here for this night. Is it okay?"
"Of course."
Tiba-tiba saja perutku mual dan sakit. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Aku jadi ingat kata dokter, penyakitku sudah bertambah parah saat ini. Aku mencari obat di tasku dan menegaknya. Ku rebahkan tubuhku dan mencoba memejamkan mata. Untungnya Joan sedang pergi membeli makan jadi dia tidak harus melihatku seperti ini. Aku mendengar pintu kunci pintu kamar dibuka. Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan menguncinya dengan rapat. Aku menghidupkan keran dan diam disana. Cukup lama aku duduk disini menahan rasa sakit. Ketika sudah reda aku menutup keran dan keluar dari kamar mandi. Aku melihat satu kotak pizza sudah ada disana dan Joan sedang mengetik sesuatu di laptopnya.
Joan melihatku yang langsung merebahkan tubuhku dan mencoba untuk tidur.
"Not eat?"
"I'm full"
'Datang ke Mang Woke sekarang. Ada hal penting.' Ricky yang mengirimkan sms ini. AKu langsung bergegas pergi kesana. Setidaknya dia adalah 'temanku' untuk saat ini. Sudah banyak menolongku Begitu tiba disana aku tidak melihat Ricky dimeja manapun. Namun aku melihat seseorang melambaikan tangan padaku dan aku tahu siapa dia.
AKu menarik kursi tepat dihadapannya. Tampaknya dia sudah cukup lama menunggu karena lemon tea yang ia pesan sudah tinggal setengah dan sebagian esnya sudah mulai mencair.
"Dini." katanya memperkenalkan diri dengan singkat.
"Kate."
"Aku tahu. Langsung saja." Dini menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki dan melipat tangannya didada. "Apa hubunganmu dengan Ricky?"
Aku tertawa kecil."Jika ini maksud undanganmu lebih baik aku pergi."
"Aku pacarnya!" Dini mulai menunjukkan emosinya.
"Lalu?" kataku tetap tenang.
"Lalu?" Dini mengulang perkataanku dan tertawa sinis. "Jauhi dia! Aku tidak ingin kehilangan dia. Akan sangat rendah harga dirimu jika kami putus karena kehadiran orang ketiga dan itu KAMU!!"
Aku kembali tertawa. "So childish."
Dini memukul meja dengan keras. Semua orang mulai memperhatikan kami. "Sudah 4 tahun kami berhubungan. AKu tidak ingin rusak hanya karena kehadiran pelayan seperti kamu!"
"Enough!" kataku dan aku beranjak dari dudukku. Ketika aku berjalan keluar Dini menarikku dan dengan cepat tangan kanannya mendarat dipipiku. Aku terdiam untuk beberapa saat merasakan sakit akibat pukulannya. Kemudian aku menyunggingkan senyumku padanya. "Have you done?"
Aku kembali berjalan tanpa memedulikan Dini. Aku berusaha untuk tidak menangis karena aku tidak salah. 'Ibu..' teriakku dalam hati.
Ketika aku sampai kosan, aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur. Aku mengambil Hp dari saku celana dan menekan beberapa nomor dan kode panggilan internasional. Namun yang terdengar hanyalah mesin penjawab telpon. Aku memutus sambungan itu dan menutup mata berharap semua akan baik-baik saja.
Aku keluar dari rumah sakit di Jakarta. Kemudian aku berjalan ke sebuah halte bis. Aku habis melakukan check up. Para dokter menyuruhku untuk melakukan kemo. Itu memerlukan biaya yang cukup mahal sedangkan biaya untuk ke rumah sakit saja sudah cukup mahal. Aku duduk bersandar dan memejamkan mata mendengarkan hiruk pikuk suara klakson. Aku mulai membayangkan satu persatu wajah keluargaku yang mungkin tidak akan sempat bertemu lagi. Mungkin setelah tiba di kosan aku akan menulis surat untuk keluargaku. Aku membuka mata dan betapa kagetnya aku melihat sosok pria yang tengah berdiri dihadapanku saat ini. Mengenakan kemeja putih, celana hitam dan dasi biru donker. Dia melihatku dengan tatapannya yang begitu dalam. Bola matanya yang bewarna biru begitu indah saat dipandang. Aku pasti mimpi. Aku menutup mataku kembali dan membukanya tapi dia benar-benar ada dihadapanku saat ini.
Aku berdiri. Perlahan dan takut kalau ini hanyalah khayalan aku meraba pipi cowok ini, dan Real. Air mataku mulai jatuh begitu pula cowok yang sekarang berada dihadapanku ini. "Joan.."kataku.
Cowok itu mengangguk dan menggenggam tanganku.
"How can you...?" suaraku tercekat dan tidak kuasa menahan air mataku.
Ya, dia adalah saudara lelakiku tapatnya abangku. Joan memelukku dengan erat. Aku menangis terisak dipelukannya.
Joan mengajakku ke hotel tempat dia tinggal. Aku duduk di sofa dekat balkon. Sofa itu membelakangi pemandangan kota jakarta yang ketika sore hari sangat indah. Joan duduk disampingku dan sejak tadi tidak melepas genggaman tangannya. Sesekali aku sesenggukan.
"How's Mom and Dad?" kataku memulai pembicaraan.
"Fine. They miss you. Let's go home."
Aku menggeleng. "I can't. You know what Dad said. Remember?"
"At that time Dad was angry. Not now..."
"How can you find me?" aku mengalihkan pembicaraan.
"I have looked you since you went from home. I know you came to Indonesia. I have a friend here so i asked him to found you. How's Evren? Have seen?"
Aku mengangguk. "But he's gone."
"Where?"
"Died."
"What?" Joan terkejut mendengar perkataanku. "When?"
Aku menceritakan semua kejadian yang terjadi padaku. Tapi aku tidak menceritakan bagaimana keadaanku sekarang. Aku tahu dia akan khawatir dan mengatakannya pada ibuku. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.
"I'm so sorry to hear that. You look so thin now." Joan merangkulku.
"How long will you be here?"
"one week. Stay here for this night. Is it okay?"
"Of course."
Tiba-tiba saja perutku mual dan sakit. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Aku jadi ingat kata dokter, penyakitku sudah bertambah parah saat ini. Aku mencari obat di tasku dan menegaknya. Ku rebahkan tubuhku dan mencoba memejamkan mata. Untungnya Joan sedang pergi membeli makan jadi dia tidak harus melihatku seperti ini. Aku mendengar pintu kunci pintu kamar dibuka. Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan menguncinya dengan rapat. Aku menghidupkan keran dan diam disana. Cukup lama aku duduk disini menahan rasa sakit. Ketika sudah reda aku menutup keran dan keluar dari kamar mandi. Aku melihat satu kotak pizza sudah ada disana dan Joan sedang mengetik sesuatu di laptopnya.
Joan melihatku yang langsung merebahkan tubuhku dan mencoba untuk tidur.
"Not eat?"
"I'm full"
Sudah seminggu sejak Evren 'pergi'. Hidupku semakin kacau. Aku hanya hidup untuk bekerja dan tidur. Tidak melakukan aktifitas apapun bahkan tidak pernah lagi pergi ke kota tua. Hari ini tepat tanggal 20 Maret, ulang tahun ibuku. Sudah 5 tahun aku tidak menghubunginya bahkan memberikannya ucapan selamat ulang tahun. Aku pergi ke sebuah wartel yang sudah sangat jarang dikunjungi orang. Beberapa kali aku mencoba untuk mengurungkan niatku tapi pada akhirnya aku tetap menekan beberapa nomor.AKu menunggu beberapa saat sampai akhirnya telpon itu diangkat.
"Halo.." kata seorang wanita diseberang sana. Dari suaranya aku tahu dia adalah ibuku.
Aku tidak kuasa untuk mengatakan 'halo'.
"Halo.. Who are there? Say something..."
Aku tetap diam dan kembali pipiku basah akan airmata. AKu mencoba untuk menahannya dan tidak membuat suara.
"Are you my baby, Kate?"
Aku kaget dengan tebakan ibuku. AKu langsung membanting gagang telpon dan pergi kekasir membayar tagihannya. Kemudian aku berlari keluar dan menyebrang jalan. Tetapi ketika ingin menyebrang aku terjatu karena sebuah sepeda motor menabrakku. Lenganku berdarah dan si pengemudi langsung melarikan diri.
Beberapa warga yang melihat kejadian itu membantuku berdiri. Kemudian sebuah mobil yang aku kenal berhenti dan Ricky bersama seorang wanita yang juga pernah aku lihat keluar. Ricky berlari kecil dan menghampiriku. "Ada apa? Kate, kamu ga apa-apa?" tanyanya dengan nada yang khawatir.
"Sayang, kamu kenal wanita ini?" tanya wanita itu pada Ricky.
Ricky tidak memedulikannya. "Lenganmu berdarah. Ayo aku antar ke dokter." Ricky menarik lenganku namun aku menepisnya.
"Tidak perlu. Leave me alone." aku berjalan meninggalkan kerumunan orang. Ricky mencegahku dan memaksa aku ikut dengannya.
"Who are you!! I don't know who are you!!" teriakku padanya.
Ricky melepas lenganku. Kemudian dia memberikan sebuah hp dari saku celananya. "Ini." Ricky meletakkannya di telapak tanganku. "Tekan nomor 5 jika kamu membutuhkan bantuan. Nomor itu akan langsung terhubung ke nomorku yang lain." Ricky pergi meninggalkanku.
Aku tidak bisa memungkiri kalau hp yang diberikan Ricky tidak berguna. Pagi ini Hp itu berguna bagiku. Perutku kembali sakit dan lebih sakit dari biasanya. Obat yang biasa aku konsumsi sudah habis. Akhirnya dengan sekuat tenaga aku mengambil hp dari laci meja dan menekan tombol 5. Aku menunggu beberapa saat sampai akhirnya telpon itu diangkat. "Kate ada apa?"
"Help me, please..." kemudian gelap.
Aku terbangun dan aku sudah berada disebuah kamar yang aku tahu ini adalah rumah sakit. Dari jendela kamar aku melihat hari sudah gelap. Berarti selama sehari ini aku tidak sadarkan diri. Perutku sudah tidak sakit lagi. Aku duduk dan kulihat tidak ada seorangpun disini. AKu mencabut infus dengan paksa dan begitu aku ingin turun seseorang masuk. Begitu melihatku dan jarum infus yang sudah tidak pada tempatnya Ricky langsung menghampiriku.
"Apa yang kamu lakukan? Tetaplah berbaring."
"Aku ingin pulang."
"Apa kamu tidak ingin mendengar apa yang telah dokter katakan padaku?"
"Apa dokter melakukan tes tanpa sepengatahuanku? Damn it!"
"Stomach cancer."
Baiklah dua kata itu cukup membuatku diam beberapa saat. Setelah kesadaranku kembali aku menatap Ricky. "Benarkah? Berapa lama? 1 bulan? 10 hari? atau besok? Aku akan mempersiapkan semuanya." kataku sambil tersenyum.
"Are you crazy?!" Ricky berteriak padaku. "Apa semua ini karena lelaki bernama Evren?" pertanyaan Ricky yang kedua cukup membuatku kaget.
"How do you know about Evren?"
Ricky duduk disampingku. "Sorry, aku mencari tahu tentangmu. Aku menanyakannya pada Agus, satpam di kota tua."
Aku tertawa kecil. "Dasar, tidak bisa menjaga rahasia."
"Lalu, apa kamu sudah bertemu dengannya?"
Aku diam beberapa saat. "Ya, sudah. Pertemuan yang begitu singkat. Kemudian dia pergi." aku menunjuk keatas.
Ricky tampak bersalah. "Oh, maaf.."
"How long?"
"What?"
"My life.."
"Dokter belum bisa memastikannya. Jika kamu ikut kemo,"
"I know it can't help. It will only be buying time. SO how long?"
"3 months."
Aku mengangguk. AKu berusaha untuk tersenyum walau kenyataan yang aku terima cukup menyayat hati. "Oke, thanks for your help."
"aku antar kamu pulang."
Aku menyipitkan mataku. "Do you like me? How about your girlfriend at that time?"
Ricky tertawa. "We are friend now. So i will take you to your home as friend."
"Friend?"
"Yeah, because you've received my help"
"Halo.." kata seorang wanita diseberang sana. Dari suaranya aku tahu dia adalah ibuku.
Aku tidak kuasa untuk mengatakan 'halo'.
"Halo.. Who are there? Say something..."
Aku tetap diam dan kembali pipiku basah akan airmata. AKu mencoba untuk menahannya dan tidak membuat suara.
"Are you my baby, Kate?"
Aku kaget dengan tebakan ibuku. AKu langsung membanting gagang telpon dan pergi kekasir membayar tagihannya. Kemudian aku berlari keluar dan menyebrang jalan. Tetapi ketika ingin menyebrang aku terjatu karena sebuah sepeda motor menabrakku. Lenganku berdarah dan si pengemudi langsung melarikan diri.
Beberapa warga yang melihat kejadian itu membantuku berdiri. Kemudian sebuah mobil yang aku kenal berhenti dan Ricky bersama seorang wanita yang juga pernah aku lihat keluar. Ricky berlari kecil dan menghampiriku. "Ada apa? Kate, kamu ga apa-apa?" tanyanya dengan nada yang khawatir.
"Sayang, kamu kenal wanita ini?" tanya wanita itu pada Ricky.
Ricky tidak memedulikannya. "Lenganmu berdarah. Ayo aku antar ke dokter." Ricky menarik lenganku namun aku menepisnya.
"Tidak perlu. Leave me alone." aku berjalan meninggalkan kerumunan orang. Ricky mencegahku dan memaksa aku ikut dengannya.
"Who are you!! I don't know who are you!!" teriakku padanya.
Ricky melepas lenganku. Kemudian dia memberikan sebuah hp dari saku celananya. "Ini." Ricky meletakkannya di telapak tanganku. "Tekan nomor 5 jika kamu membutuhkan bantuan. Nomor itu akan langsung terhubung ke nomorku yang lain." Ricky pergi meninggalkanku.
Aku tidak bisa memungkiri kalau hp yang diberikan Ricky tidak berguna. Pagi ini Hp itu berguna bagiku. Perutku kembali sakit dan lebih sakit dari biasanya. Obat yang biasa aku konsumsi sudah habis. Akhirnya dengan sekuat tenaga aku mengambil hp dari laci meja dan menekan tombol 5. Aku menunggu beberapa saat sampai akhirnya telpon itu diangkat. "Kate ada apa?"
"Help me, please..." kemudian gelap.
Aku terbangun dan aku sudah berada disebuah kamar yang aku tahu ini adalah rumah sakit. Dari jendela kamar aku melihat hari sudah gelap. Berarti selama sehari ini aku tidak sadarkan diri. Perutku sudah tidak sakit lagi. Aku duduk dan kulihat tidak ada seorangpun disini. AKu mencabut infus dengan paksa dan begitu aku ingin turun seseorang masuk. Begitu melihatku dan jarum infus yang sudah tidak pada tempatnya Ricky langsung menghampiriku.
"Apa yang kamu lakukan? Tetaplah berbaring."
"Aku ingin pulang."
"Apa kamu tidak ingin mendengar apa yang telah dokter katakan padaku?"
"Apa dokter melakukan tes tanpa sepengatahuanku? Damn it!"
"Stomach cancer."
Baiklah dua kata itu cukup membuatku diam beberapa saat. Setelah kesadaranku kembali aku menatap Ricky. "Benarkah? Berapa lama? 1 bulan? 10 hari? atau besok? Aku akan mempersiapkan semuanya." kataku sambil tersenyum.
"Are you crazy?!" Ricky berteriak padaku. "Apa semua ini karena lelaki bernama Evren?" pertanyaan Ricky yang kedua cukup membuatku kaget.
"How do you know about Evren?"
Ricky duduk disampingku. "Sorry, aku mencari tahu tentangmu. Aku menanyakannya pada Agus, satpam di kota tua."
Aku tertawa kecil. "Dasar, tidak bisa menjaga rahasia."
"Lalu, apa kamu sudah bertemu dengannya?"
Aku diam beberapa saat. "Ya, sudah. Pertemuan yang begitu singkat. Kemudian dia pergi." aku menunjuk keatas.
Ricky tampak bersalah. "Oh, maaf.."
"How long?"
"What?"
"My life.."
"Dokter belum bisa memastikannya. Jika kamu ikut kemo,"
"I know it can't help. It will only be buying time. SO how long?"
"3 months."
Aku mengangguk. AKu berusaha untuk tersenyum walau kenyataan yang aku terima cukup menyayat hati. "Oke, thanks for your help."
"aku antar kamu pulang."
Aku menyipitkan mataku. "Do you like me? How about your girlfriend at that time?"
Ricky tertawa. "We are friend now. So i will take you to your home as friend."
"Friend?"
"Yeah, because you've received my help"
Setelah pulang kerja aku langsung bergegas ke rumah sakit. Begitu aku sedang menunggu angkot, sebuah mobil CRV merah berhenti tepat dihadapanku. Kaca mobil terbuka dan seorang cowok melambaikan tangannya padaku, Ricky.
"Mau pulang?" tanyanya masih berada di kursi pengemudi.
Aku menggeleng. "Ke Jakarta."
"Tinggal di jakarta sekarang?"
"Mengunjungi seseorang."
"Mau kuantar? Kebetulan aku juga ingin ke jakarta."
Aku berfikir untuk beberapa saat dan akhirnya aku menerima tawarannya.
Aku tidak terlalu mendengarkan ocehan Ricky. Aku hanya menjawab seperlunya saja sampai kami tiba dirumah sakit. "Thanks" kataku yang langsung berlari masuk ke rumah sakit tanpa menunggu jawaban Ricky. Dari ujung lorong aku melihat pintu kamar terbuka lebar dan dua orang suster dengan tergesa-gesa masuk kedalam. Sesuatu tidak beres sedang terjadi. AKu berlari masuk ke kamar dan kulihat Jimmy disana bersama seorang wanita yang sedang memeluknya. Tiga orang dokter dan 2 orang suster memeriksa keadaan Evren yang sedang, Oh my God! aku langsung membuang tasku begitu saja dan mendekat ke Evren. Seorang dokter menghalangiku dan menyuruhku menjauh.
Tidak lama kemudian aku mendengar suara 'tiiiiiiiiit...". Seorang dokter melihat jam tangannya. "19.45, dia meninggal."
Lalu mereka pergi dan berbicara dengan Jimmy. AKu terduduk di lantai. Baru kemarin aku bertemu dengannya dan sekarang dia sudah benar-benar pergi. Aku berdiri dan duduk disampingnya.
"Evren, wake up..."aku membisikkannya ditelinganya. "Don't leave me..." air mataku jatuh dipipinya. "At least, say goodbye for me, huh.. Please, open your eyes, say it..." aku mulai tak kuasa menahan tangis.
Aku memeluk Evren dan menangis didadanya yang dingin. DIa tidak bisa membalas pelukanku lagi sekarang. "Don't go... Don't go..."
Seorang wanita yang sejak tadi bersama Jimmy berusaha memisahkanku dengan Evren agar suster dapat mengurus jenazahnya. Aku memberontak hingga akhirnya semua menjadi gelap.
Keesokan harinya aku tidak masuk kerja dan datang untuk mengantarkan Evren terakhir kalinya. Banyak orang yang datang memberikan bela sungkawa mereka pada keluarga Evren. AKu duduk disudut ruangan menatap lantai dengan tatapan kosong. Aku tidak berfikir sama sekali. Aku merasa separuh jiwaku sudah pergi.
Seorang wanita yang ternyata istri Jimmy, Naya, memberikanku segelas teh hangat. "Minumlah sedikit. Dari pagi kamu belum menyentuh apapun."
Aku menatapnya dan air mataku kembali jatuh. "Aku ingin bersama dia."
Naya memelukku dan mengelus rambutku. "Relakan kepergiannya. Kamu tidak boleh berkata seperti itu."
Kemudian Jimmy menghampiri kami. "Kate, ada yang ingin aku tunjukkan padamu."
Aku dituntun Naya, aku tidak punya kekuatan untuk berjalan, masuk ke sebuah kamar. Aku melihat kamar yang begitu rapi dengan miniatur motor berbagai jenis. Ya, Evren sangat suka dengan motor. Aku duduk di tepi tempat tidur dimana Evren pernah tidur disini. Jimmy memberikanku sebuah kotak berukuran sedang.
Aku membukanya dan isinya semua barang yang berhubungan denganku dan Evren. Aku melihat ada foto kami saat masih di Izmir, makan malam, bercanda di dapur untuk membuat makan malam bersama abangku, pasangan kalung yang biasanya dikenakan Evren, beberapa hadiah kecil yang aku berikan padanya, dan sebuah surat. Aku membuka surat itu dan mulai membacanya.
"Dear, Kate..
Entah kenapa aku ingin sekali menuliskan sebua surat untukmu padahal 20 hari lagi kita akan bertemu. AKu tidak sabar menunggu kedatanganmu di Indonesia. Bagaimana kabar paman dan bibi, dan Joan? Mereka pasti baik-baik saja bukan?
Disurat ini, aku ingin mengatakan maaf... maaf yang sebesar-besarnya karena hubungan kita telah membuatmu selalu bertengkar dengan orangtuamu. Maaf karena sifatku yang cuek dan dingin sering menyakitimu, maaf karena aku tidak memberikan cinta yang begitu besar and sorry because i'm not your great prince charming.
Aku juga ingin mengatakan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih karena telah memberikan cinta yang luar biasa begitu besarnya padaku. Terima kasih sudah membuat hari-hariku begitu menyenangkan dan berbeda. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak bertemu denganmu di Izmir.
Dan satu lagi, aku ingin kamu benar-benar tahu kalau aku sangat menyayangimu melebihi apapun. Makan yang baik, jaga kesehatanmu, dan jangan sering membuat ayahmu marah.
Love you so much, your prince, Evren."
Selesai membaca surat itu, air mataku sudah membasahi pipiku. Aku membaringkan tubuhku di kasur dan menangis tersedu-sedu. "Evren... Evren... Evren..."
"Mau pulang?" tanyanya masih berada di kursi pengemudi.
Aku menggeleng. "Ke Jakarta."
"Tinggal di jakarta sekarang?"
"Mengunjungi seseorang."
"Mau kuantar? Kebetulan aku juga ingin ke jakarta."
Aku berfikir untuk beberapa saat dan akhirnya aku menerima tawarannya.
Aku tidak terlalu mendengarkan ocehan Ricky. Aku hanya menjawab seperlunya saja sampai kami tiba dirumah sakit. "Thanks" kataku yang langsung berlari masuk ke rumah sakit tanpa menunggu jawaban Ricky. Dari ujung lorong aku melihat pintu kamar terbuka lebar dan dua orang suster dengan tergesa-gesa masuk kedalam. Sesuatu tidak beres sedang terjadi. AKu berlari masuk ke kamar dan kulihat Jimmy disana bersama seorang wanita yang sedang memeluknya. Tiga orang dokter dan 2 orang suster memeriksa keadaan Evren yang sedang, Oh my God! aku langsung membuang tasku begitu saja dan mendekat ke Evren. Seorang dokter menghalangiku dan menyuruhku menjauh.
Tidak lama kemudian aku mendengar suara 'tiiiiiiiiit...". Seorang dokter melihat jam tangannya. "19.45, dia meninggal."
Lalu mereka pergi dan berbicara dengan Jimmy. AKu terduduk di lantai. Baru kemarin aku bertemu dengannya dan sekarang dia sudah benar-benar pergi. Aku berdiri dan duduk disampingnya.
"Evren, wake up..."aku membisikkannya ditelinganya. "Don't leave me..." air mataku jatuh dipipinya. "At least, say goodbye for me, huh.. Please, open your eyes, say it..." aku mulai tak kuasa menahan tangis.
Aku memeluk Evren dan menangis didadanya yang dingin. DIa tidak bisa membalas pelukanku lagi sekarang. "Don't go... Don't go..."
Seorang wanita yang sejak tadi bersama Jimmy berusaha memisahkanku dengan Evren agar suster dapat mengurus jenazahnya. Aku memberontak hingga akhirnya semua menjadi gelap.
Keesokan harinya aku tidak masuk kerja dan datang untuk mengantarkan Evren terakhir kalinya. Banyak orang yang datang memberikan bela sungkawa mereka pada keluarga Evren. AKu duduk disudut ruangan menatap lantai dengan tatapan kosong. Aku tidak berfikir sama sekali. Aku merasa separuh jiwaku sudah pergi.
Seorang wanita yang ternyata istri Jimmy, Naya, memberikanku segelas teh hangat. "Minumlah sedikit. Dari pagi kamu belum menyentuh apapun."
Aku menatapnya dan air mataku kembali jatuh. "Aku ingin bersama dia."
Naya memelukku dan mengelus rambutku. "Relakan kepergiannya. Kamu tidak boleh berkata seperti itu."
Kemudian Jimmy menghampiri kami. "Kate, ada yang ingin aku tunjukkan padamu."
Aku dituntun Naya, aku tidak punya kekuatan untuk berjalan, masuk ke sebuah kamar. Aku melihat kamar yang begitu rapi dengan miniatur motor berbagai jenis. Ya, Evren sangat suka dengan motor. Aku duduk di tepi tempat tidur dimana Evren pernah tidur disini. Jimmy memberikanku sebuah kotak berukuran sedang.
Aku membukanya dan isinya semua barang yang berhubungan denganku dan Evren. Aku melihat ada foto kami saat masih di Izmir, makan malam, bercanda di dapur untuk membuat makan malam bersama abangku, pasangan kalung yang biasanya dikenakan Evren, beberapa hadiah kecil yang aku berikan padanya, dan sebuah surat. Aku membuka surat itu dan mulai membacanya.
"Dear, Kate..
Entah kenapa aku ingin sekali menuliskan sebua surat untukmu padahal 20 hari lagi kita akan bertemu. AKu tidak sabar menunggu kedatanganmu di Indonesia. Bagaimana kabar paman dan bibi, dan Joan? Mereka pasti baik-baik saja bukan?
Disurat ini, aku ingin mengatakan maaf... maaf yang sebesar-besarnya karena hubungan kita telah membuatmu selalu bertengkar dengan orangtuamu. Maaf karena sifatku yang cuek dan dingin sering menyakitimu, maaf karena aku tidak memberikan cinta yang begitu besar and sorry because i'm not your great prince charming.
Aku juga ingin mengatakan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih karena telah memberikan cinta yang luar biasa begitu besarnya padaku. Terima kasih sudah membuat hari-hariku begitu menyenangkan dan berbeda. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak bertemu denganmu di Izmir.
Dan satu lagi, aku ingin kamu benar-benar tahu kalau aku sangat menyayangimu melebihi apapun. Makan yang baik, jaga kesehatanmu, dan jangan sering membuat ayahmu marah.
Love you so much, your prince, Evren."
Selesai membaca surat itu, air mataku sudah membasahi pipiku. Aku membaringkan tubuhku di kasur dan menangis tersedu-sedu. "Evren... Evren... Evren..."
Hari ini aku tidak masuk kerja. Perutku sakit sekali. Ini bukan yang pertama kalinya, sudah sering seperti ini. AKu sudah mengkonsumsi semua obat yang ada tapi tidak ada perubahan. Aku hanya tiduran di tempat tidurku berharap sakitnya akan berkurang. Aku mencoba untuk tidur tapi tetap tidak bisa. Akhirnya aku mengambil dompet dan jaket. Aku memanggil Ojek yang ada dan pergi ke rumah sakit.
"Kamu harus melakukan beberapa test." kata dokter itu begitu ia selesai memeriksaku.
"Tidak. Berikan saja obat untukku."
"Tapi, Kate. Ini sudah kesekian kalinya. Sampai kapan aku harus terus memberimu obat tanpa tahu penyakit yang sebenarnya?"
"Jika aku melakukannya aku akan mendengar sesuatu yang buruk, bukan?"
"Tidak, Kate. Hanya test."
"Tidak, aku tahu sesuatu sedang tidak beres didalam sini." aku mengelus perutku. "Aku tidak ingin memikirkan ini, aku harus menemukan Evren."
"Apa hanya dia saja yang kamu pikirkan? Bagaimana dengan hidupmu?"
"Just give me a medicine!!" teriakku.
Dokter ini menghela nafas dan menulis resep lalu diberikan pada seorang suster yang sejak tadi memperhatikan kami.
"Thanks." kataku langsung beranjak kelua ruangan.
Akhirnya aku mendapatkan beberapa obat yang aku butuhkan. Aku kembali ke kosan dan meneguk obat sesuai anjuran yang tertulis. Aku berbaring diatas tempat tidur dan aku mulai mengingat wajah ibu, abang, ayah, Evren dan semua teman-temanku di Turkey. Aku memejamkan mata dan untuk kesekian kalinya air mataku kembali jatuh.
Hari ini aku sudah merasa lebih baik. Aku kembali ke kota tua dan kali ini aku akan kembali menunggu di musium bersama Agus. Tapi begitu aku keluar stasiun, aku melihat Evren sedang mengantri di loket karcis. AKu langsung berlari kearahnya dan menarik lengannya lalu memeluknya.
"I miss you.. i miss you so much..."
Evren melepas pelukanku dan aku melihat wajah Evren yang bingung dengan tindakanku. "Kamu siapa?"
Mendengar pertanyaan itu aku seperti ditimpa batu besar dan disengat listrik. "Evren, it's me, Kate. Are you not remember me?"
"Kate?? Are you Kate? Catherine Smith?"
Aku mengangguk. "Remember me now?" tanyaku dan air mataku mulai menetes.
"But i'm not the person who you are looking. I'm Jimmy, Evren's brother or Evren's twin."
"Twin? Evren has...?"
Aku mulai bingung. Jimmy mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan memberikannya padaku. Disini tertulis namanya Jimmy Ergat seorang IT di sebuah perusahaan. Aku menyerahkannya kembali. "Believe me now?" Jimmy memasukkan kartu namanya kembali.
"So, where's Evren?"
Wajah Jimmy langsung berubah. Jimmy mengambil hp dari sakunya dan menelpon seseorang. "Aku tidak jadi kesana. Aku masih ada urusan." begitu katanya dan Jimmy langsung menutup telponnya.
"Where's Evren? Do you know? Would you tell me?"
"I will take you to Evren."
"Really?"
"Yeah.. Follow me.."
Jimmy mengajakku ikut dengannya dan kami masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam. Ini bagian yang aku tunggu-tunggu. Setelah aku menunggu, akhirnya aku akan bertemu dengannya.
Mobil berhenti di sebuah rumah sakit. Jimmy menyuruhku turun.
"Why we are here? Where is Evren? He is not doctor, Jim..." kataku saat kami akan memasuki pintu utama rumah sakit.
"Just follow me."
Aku mengikuti Jimmy masuk, melewati beberapa lorong, kamar-kamar dan akhirnya tiba disebuah kamar dengan pintu tertutup rapat. Perasaanku tidak enak, aku deg-degan. Aku yakin akan melihat sesuatu yang tidak aku inginkan. Jimmy membuka pintunya dan aku bisa melihat seseorang terbaring disana.
"Come in." JImmy menyuruhku masuk.
"AKu masuk dan betapa kagetnya aku bahwa orang yang tidur disana adalah Evren. TErtidur dengan wajah damai dengan segala peralatan yang membantunya untuk bertahan hidup. Aku mendekat agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"What happened? Tell me!"
"5 tahun yang lalu saat dia ingin bertemu denganmu di kota tua, dia mengalami kecelakaan yang hebat. Kemudian dia koma sejak saat itu. Selama 1 tahun aku mencarimu tapi tidak pernah bertemu. Akhirnya aku menghentikan pencarianku."
Kakiku lemas dan aku terduduk di lantai. Aku tak sanggup menahan tangisku. Secara tidak langsung aku yang menyebabkan ini semua.
"Evren, wake up!! I'm here. Please don't be like this." aku mencoba membangunkannya. Aku menggenggam tangannya, "Please open your eyes... I'm here... Sorry, i'm late.."
AKu tahu tindakanku tidak ada gunanya. Aku menghapus air mataku. Aku duduk di dekatnya menggenggam erat tangannya, "We're fighting together now."
"Kamu harus melakukan beberapa test." kata dokter itu begitu ia selesai memeriksaku.
"Tidak. Berikan saja obat untukku."
"Tapi, Kate. Ini sudah kesekian kalinya. Sampai kapan aku harus terus memberimu obat tanpa tahu penyakit yang sebenarnya?"
"Jika aku melakukannya aku akan mendengar sesuatu yang buruk, bukan?"
"Tidak, Kate. Hanya test."
"Tidak, aku tahu sesuatu sedang tidak beres didalam sini." aku mengelus perutku. "Aku tidak ingin memikirkan ini, aku harus menemukan Evren."
"Apa hanya dia saja yang kamu pikirkan? Bagaimana dengan hidupmu?"
"Just give me a medicine!!" teriakku.
Dokter ini menghela nafas dan menulis resep lalu diberikan pada seorang suster yang sejak tadi memperhatikan kami.
"Thanks." kataku langsung beranjak kelua ruangan.
Akhirnya aku mendapatkan beberapa obat yang aku butuhkan. Aku kembali ke kosan dan meneguk obat sesuai anjuran yang tertulis. Aku berbaring diatas tempat tidur dan aku mulai mengingat wajah ibu, abang, ayah, Evren dan semua teman-temanku di Turkey. Aku memejamkan mata dan untuk kesekian kalinya air mataku kembali jatuh.
Hari ini aku sudah merasa lebih baik. Aku kembali ke kota tua dan kali ini aku akan kembali menunggu di musium bersama Agus. Tapi begitu aku keluar stasiun, aku melihat Evren sedang mengantri di loket karcis. AKu langsung berlari kearahnya dan menarik lengannya lalu memeluknya.
"I miss you.. i miss you so much..."
Evren melepas pelukanku dan aku melihat wajah Evren yang bingung dengan tindakanku. "Kamu siapa?"
Mendengar pertanyaan itu aku seperti ditimpa batu besar dan disengat listrik. "Evren, it's me, Kate. Are you not remember me?"
"Kate?? Are you Kate? Catherine Smith?"
Aku mengangguk. "Remember me now?" tanyaku dan air mataku mulai menetes.
"But i'm not the person who you are looking. I'm Jimmy, Evren's brother or Evren's twin."
"Twin? Evren has...?"
Aku mulai bingung. Jimmy mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan memberikannya padaku. Disini tertulis namanya Jimmy Ergat seorang IT di sebuah perusahaan. Aku menyerahkannya kembali. "Believe me now?" Jimmy memasukkan kartu namanya kembali.
"So, where's Evren?"
Wajah Jimmy langsung berubah. Jimmy mengambil hp dari sakunya dan menelpon seseorang. "Aku tidak jadi kesana. Aku masih ada urusan." begitu katanya dan Jimmy langsung menutup telponnya.
"Where's Evren? Do you know? Would you tell me?"
"I will take you to Evren."
"Really?"
"Yeah.. Follow me.."
Jimmy mengajakku ikut dengannya dan kami masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam. Ini bagian yang aku tunggu-tunggu. Setelah aku menunggu, akhirnya aku akan bertemu dengannya.
Mobil berhenti di sebuah rumah sakit. Jimmy menyuruhku turun.
"Why we are here? Where is Evren? He is not doctor, Jim..." kataku saat kami akan memasuki pintu utama rumah sakit.
"Just follow me."
Aku mengikuti Jimmy masuk, melewati beberapa lorong, kamar-kamar dan akhirnya tiba disebuah kamar dengan pintu tertutup rapat. Perasaanku tidak enak, aku deg-degan. Aku yakin akan melihat sesuatu yang tidak aku inginkan. Jimmy membuka pintunya dan aku bisa melihat seseorang terbaring disana.
"Come in." JImmy menyuruhku masuk.
"AKu masuk dan betapa kagetnya aku bahwa orang yang tidur disana adalah Evren. TErtidur dengan wajah damai dengan segala peralatan yang membantunya untuk bertahan hidup. Aku mendekat agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"What happened? Tell me!"
"5 tahun yang lalu saat dia ingin bertemu denganmu di kota tua, dia mengalami kecelakaan yang hebat. Kemudian dia koma sejak saat itu. Selama 1 tahun aku mencarimu tapi tidak pernah bertemu. Akhirnya aku menghentikan pencarianku."
Kakiku lemas dan aku terduduk di lantai. Aku tak sanggup menahan tangisku. Secara tidak langsung aku yang menyebabkan ini semua.
"Evren, wake up!! I'm here. Please don't be like this." aku mencoba membangunkannya. Aku menggenggam tangannya, "Please open your eyes... I'm here... Sorry, i'm late.."
AKu tahu tindakanku tidak ada gunanya. Aku menghapus air mataku. Aku duduk di dekatnya menggenggam erat tangannya, "We're fighting together now."
Sabtu, 14 Januari 2012
Sudah setengah hari aku duduk disana. Mengamati orang yang keluar dan masuk musium. Tapi hasilnya nol. Aku tidak bertemu dengan orang yang aku cari. Agus menyuguhiku segelas teh dan sepiring kue kering tapi sama sekali tidak aku sentuh sedikitpun.
"Mba..." sapa seseorang tiba-tiba. "Mba ingat saya? Kemarin di minimarket."
Aku mencoba mengingatnya dan sekarang aku tahu. Cowok yang bermasalah dengan belanjaannya. "Ya." jawabku singkat.
"Mba kerja disini juga?"
"Tidak."
"Berkunjung?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Menunggu seseorang."
"Ricky, ayo.." seorang wanita, spertinya seumuran, menarik lengan cowok yang dipanggil Ricky.
"Oke, Mba. Aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi..." katanya lalu pergi bersama wanita itu.
Pukul 09.00 malam aku bersiap untuk pulang. Kali ini aku akan naik bis karena kereta sudah tidak ada yang beroperasi. Namun saat aku sedang menunggu di halte bis, dari seberang aku jalan melihat sosok pria yang sangat aku kenal keluar dari sebuah toko.
"Evren!!" teriakku memanggil pria itu. "Evren!!" panggilku lagi. Tapi pria itu tidak menoleh sama sekali.
Aku berusaha untuk menyebrang jalan tapi begitu banyak mobil yang lalu lalang. Evren masuk ke dalam mobil dan ketika aku berhasil menyebrang mobil itu sudah bergerak. AKu berlari sekuat mungkin. "Evren!! Evren!!" aku terus memanggilnya berharap mobil itu akan berhenti dan Evren akan keluar. Aku tak kuasa mengejarnya karena mobil bergerak dengan kecepatan yang tak sebanding denganku. Aku melihatnya, Evren, aku melihatnya. Akhirnya ya, Tuhan. Aku duduk di trotoar sambil menggenggam kalung yang selama ini melingkar dileherku. Terima kasih, Tuhan, Aku bisa melihatnya lagi. Aku terisak, perjuanganku akan membuahkan hasil.
Hari ini aku kembali bekerja. Aku harus menunggu datangnya besok dan aku akan kembali kesana. Keesokan harinya aku kembali ke kota tua tapi tidak ke musium. Aku pergi ke halte dimana aku melihat Evren. AKu terus menunggu sampai malam tiba. Tapi Evren tidak pernah muncul. Kemudian aku melihat segerombolan pemuda punk datang menghampiriku. Mereka ada 5 orang.
"Hai, nona,,, Apa yang kamu lakukan malam-malam gini?" tanya salah seorang dari mereka. Rambut mereka dicat, pakaian awut-awutan, tato di lengan, dan bau.
"Mendingan kamu ikut kami aja?" kata salah satunya lagi.
Kemudian mereka mulai menarik lenganku. Aku berusaha melawan tapi mereka memaksaku untuk ikut. Dalam hati aku berteriak memanggil Evren, berharap dia datang menolongku. Aku berusaha melawan namun wajahku ditampar oleh salah satu dari mereka. Bibirku pecah dan pipiku terasa sakit sekali. Tiba-tiba saja seseorang memukul orang yang menarik lengan kananku. Aku melihat orang itu dan ternyata dia adalah cowok minimarket. Cowok itu menarikku dan menyuruhku masuk ke mobil. Dia secepatnya menyalakan mobil dan melaju dengan cepat.
"Mba, mba ga apa-apa?" tanyanya melihat bibirku yang berdarah dan pipiku yang merah.
"Ya, terima kasih banyak." kataku. Aku menghapus airmataku yang menetes.
"Apa yang mba lakukan malam-malam begini? Rumah mba dimana? Aku akan antar?"
Aku memberitahukan alamatku dan kami diam untuk beberapa saat.
"Ricky." katanya memulai pembicaraan lagi.
"Kate."
"Kamu bukan orang Indonesia asli, bukan? Keturunan mana? Dari ayah atau ibu?"
"Aku bukan orang Indonesia."
"Benarkah? Tapi aneh sekali, kenapa kamu bekerja di minimarket? Spend time?"
"Mencari uang."
"Ha? Lalu ayah dan ibumu?"
Aku mengalihkan pandanganku padanya mencoba menyiratkan kalau aku tidak ingin membahasnya. Ricky langsung mengerti dan kembali kami diam untuk waktu yang lama. Ricky menghentikan mobilnya didepan sebuah apotik. Lalu ia kembali membawa sebuah kantong plasti kecil dan menyerahkannya padaku.
"Obati lukamu."
Aku menerimanya. "Thanks"
Ricky mengantarku hingga depan kosan.
"Thanks" kataku padanya.
"Istirahatlah."
Begitu aku ingin masuk, Ricky menahanku. "Apa kamu punya nomor Hp?"
Aku menatapnya bingung tanpa memberikan jawaban.
"Ahh,, maksudku jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku. Kita sekarang teman, bukan?"
"Aku tidak punya."
Ricky mengambil pulpen dari saku kemejanya dan selembar kertas dari saku celananya. Ia menulis sesuatu lalu menyerahkannya padaku. "Jika ada apa-apa, hubungi aku."
AKu menerimanya dan memasukkannya ke saku jeansku. Lalu aku masuk dan meninggalkan Ricky yang masih berdiri disana.
"Mba..." sapa seseorang tiba-tiba. "Mba ingat saya? Kemarin di minimarket."
Aku mencoba mengingatnya dan sekarang aku tahu. Cowok yang bermasalah dengan belanjaannya. "Ya." jawabku singkat.
"Mba kerja disini juga?"
"Tidak."
"Berkunjung?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Menunggu seseorang."
"Ricky, ayo.." seorang wanita, spertinya seumuran, menarik lengan cowok yang dipanggil Ricky.
"Oke, Mba. Aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi..." katanya lalu pergi bersama wanita itu.
Pukul 09.00 malam aku bersiap untuk pulang. Kali ini aku akan naik bis karena kereta sudah tidak ada yang beroperasi. Namun saat aku sedang menunggu di halte bis, dari seberang aku jalan melihat sosok pria yang sangat aku kenal keluar dari sebuah toko.
"Evren!!" teriakku memanggil pria itu. "Evren!!" panggilku lagi. Tapi pria itu tidak menoleh sama sekali.
Aku berusaha untuk menyebrang jalan tapi begitu banyak mobil yang lalu lalang. Evren masuk ke dalam mobil dan ketika aku berhasil menyebrang mobil itu sudah bergerak. AKu berlari sekuat mungkin. "Evren!! Evren!!" aku terus memanggilnya berharap mobil itu akan berhenti dan Evren akan keluar. Aku tak kuasa mengejarnya karena mobil bergerak dengan kecepatan yang tak sebanding denganku. Aku melihatnya, Evren, aku melihatnya. Akhirnya ya, Tuhan. Aku duduk di trotoar sambil menggenggam kalung yang selama ini melingkar dileherku. Terima kasih, Tuhan, Aku bisa melihatnya lagi. Aku terisak, perjuanganku akan membuahkan hasil.
Hari ini aku kembali bekerja. Aku harus menunggu datangnya besok dan aku akan kembali kesana. Keesokan harinya aku kembali ke kota tua tapi tidak ke musium. Aku pergi ke halte dimana aku melihat Evren. AKu terus menunggu sampai malam tiba. Tapi Evren tidak pernah muncul. Kemudian aku melihat segerombolan pemuda punk datang menghampiriku. Mereka ada 5 orang.
"Hai, nona,,, Apa yang kamu lakukan malam-malam gini?" tanya salah seorang dari mereka. Rambut mereka dicat, pakaian awut-awutan, tato di lengan, dan bau.
"Mendingan kamu ikut kami aja?" kata salah satunya lagi.
Kemudian mereka mulai menarik lenganku. Aku berusaha melawan tapi mereka memaksaku untuk ikut. Dalam hati aku berteriak memanggil Evren, berharap dia datang menolongku. Aku berusaha melawan namun wajahku ditampar oleh salah satu dari mereka. Bibirku pecah dan pipiku terasa sakit sekali. Tiba-tiba saja seseorang memukul orang yang menarik lengan kananku. Aku melihat orang itu dan ternyata dia adalah cowok minimarket. Cowok itu menarikku dan menyuruhku masuk ke mobil. Dia secepatnya menyalakan mobil dan melaju dengan cepat.
"Mba, mba ga apa-apa?" tanyanya melihat bibirku yang berdarah dan pipiku yang merah.
"Ya, terima kasih banyak." kataku. Aku menghapus airmataku yang menetes.
"Apa yang mba lakukan malam-malam begini? Rumah mba dimana? Aku akan antar?"
Aku memberitahukan alamatku dan kami diam untuk beberapa saat.
"Ricky." katanya memulai pembicaraan lagi.
"Kate."
"Kamu bukan orang Indonesia asli, bukan? Keturunan mana? Dari ayah atau ibu?"
"Aku bukan orang Indonesia."
"Benarkah? Tapi aneh sekali, kenapa kamu bekerja di minimarket? Spend time?"
"Mencari uang."
"Ha? Lalu ayah dan ibumu?"
Aku mengalihkan pandanganku padanya mencoba menyiratkan kalau aku tidak ingin membahasnya. Ricky langsung mengerti dan kembali kami diam untuk waktu yang lama. Ricky menghentikan mobilnya didepan sebuah apotik. Lalu ia kembali membawa sebuah kantong plasti kecil dan menyerahkannya padaku.
"Obati lukamu."
Aku menerimanya. "Thanks"
Ricky mengantarku hingga depan kosan.
"Thanks" kataku padanya.
"Istirahatlah."
Begitu aku ingin masuk, Ricky menahanku. "Apa kamu punya nomor Hp?"
Aku menatapnya bingung tanpa memberikan jawaban.
"Ahh,, maksudku jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku. Kita sekarang teman, bukan?"
"Aku tidak punya."
Ricky mengambil pulpen dari saku kemejanya dan selembar kertas dari saku celananya. Ia menulis sesuatu lalu menyerahkannya padaku. "Jika ada apa-apa, hubungi aku."
AKu menerimanya dan memasukkannya ke saku jeansku. Lalu aku masuk dan meninggalkan Ricky yang masih berdiri disana.
Aku, Kate. Sudah lima tahun hidup sebatang kara di negara orang, Indonesia. Di Indonesia aku hidup sebagai pelayan di sebuah minimarket. Tinggal di sebuah kosan yang cukup murah disudut kota Bogor, sebuah kota di Indonesia. Aku tidak punya teman sama sekali bahkan aku tidak pernah tahu nama karyawan di minimarket. Hidupku hanya dihabiskan untuk bekerja dan pulang untuk tidur.
Seperti biasa pagi ini aku harus berangkat kerja. Aku melihat kaca jendelaku basah akan air hujan. Bogor memang dikenal sebagai kota hujan, kota hijau, atau kota 1000 angkot. Begitu aku melangkahkan kakiku keluar kosan, rintik-rintik hujan langsung menyambutku. Aku langsung berjalan tanpa membuka payung karena aku tak pernah memilikinya.
Begitu aku tiba di minimarket, aku langsung melepaskan jaket yang aku kenakan dan meletakkannya di loker. Kemudian aku berjalan ke meja kasir dan berdiri diam disana menatap kosong komputer yang sebelumnya telah dinyalakan. Aku jarang berkomunikasi dengan karyawan disini dan mereka menganggapku 'bule aneh'. Aku terus melayani pelanggan yang datang tanpa meninggalkan meja kasir walaupun saatnya makan siang. Aku tidak pernah membiarkan diriku menyicipi makan siang. Pelanggan yang datang hari ini cukup ramai hingga aku harus dibantu salah seorang karyawan.
Pukul 5 sore waktunya aku pulang, namun baru saja aku ingin membuka pintu seorang lelaki kurus, berkacamata dan tinggi menghalangi jalanku.
"Mba maaf... Ini bukan kantong belanjaan saya. Sepertinya tertukar." Cowok itu menyodorkan kantongan plastik putih berukuran sedang.
Aku menerimanya dan membuka kantong tersebut. "Maaf, tapi sejauh ini kami belum menerima komplain." kataku sedikit sulit berbahasa Indonesia. Walau sudah lima tahun tapi aku masih sulit menggunakan bahasa ini.
"Ada apa ini?" salah seorang karyawan datang menghampiri kami.
"Begini, ini bukan kantong belanjaan saya. Sepertinya tertukar." jelas cowok itu pada karyawan ini.
"Tapi maaf kami belum menerima komplain dari pelanggan lain. Apa anda mau menunggu?"
karyawan itu mengambil kantong plastik dari tanganku begitu saja.
Aku langsung berjalan tanpa memedulikan mereka.
"Kate!" panggil karyawan itu.
Aku berbalik. "What?"
"Kamu ingin melepas tanggung jawab dan pergi pulang begitu saja? Oh, my God!"
Kemudian tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya berjalan melewatiku sambil membawa kantong plastik yang berukuran besar. Wanita itu menghampiri karyawan yang berteriak padaku tadi. "Maaf, ini bukan belanjaan saya."
Aku berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan permasalahan itu lagi.
Pagi ini aku tidak berangkat kerja. Jadwalku kosong hari ini. Pagi ini aku akan pergi ke kota tua di Jakarta. Dari Bogor aku harus naik kereta hingga stasiun kota tua. Kereta begitu sesak dengan orang yang ingin berangkat kerja, sekolah ataupun mahasiswa. Begitu aku tiba di kota tua aku langsung masuk ke musium.
"Agus, apa kamu bertemu dengannya kemarin?" tanyaku pada salah seorang satpam disana.
Agus menggeleng. "Aku sama sekali tidak melihat batang hidungnya."
Kembali harapanku putus. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menguatkan diriku.
"Sudah 5 tahun, Kate. Sudah waktunya kamu move-on. Lupakan dia. Kamu bisa menemukan yang lebih baik dari dia. Lihat hidupmu sekarang. Sangat berbeda saat kita pertama kali bertemu 5 tahun yang lalu."
Ya, aku sedang menunggu seseorang. Seseorang yang paling penting bagiku. Seseorang yang datang dalam hidupku 7 tahun yang lalu. Dan sekarang dia menghilang seperti di telan bumi, tanpa jejak. Aku tidak pernah tahu dimana dia tinggal tapi ada sebuah janji yang kami buat 5 tahun yang lalu. Dan aku masih berharap dia menepatinya.
Seperti biasa pagi ini aku harus berangkat kerja. Aku melihat kaca jendelaku basah akan air hujan. Bogor memang dikenal sebagai kota hujan, kota hijau, atau kota 1000 angkot. Begitu aku melangkahkan kakiku keluar kosan, rintik-rintik hujan langsung menyambutku. Aku langsung berjalan tanpa membuka payung karena aku tak pernah memilikinya.
Begitu aku tiba di minimarket, aku langsung melepaskan jaket yang aku kenakan dan meletakkannya di loker. Kemudian aku berjalan ke meja kasir dan berdiri diam disana menatap kosong komputer yang sebelumnya telah dinyalakan. Aku jarang berkomunikasi dengan karyawan disini dan mereka menganggapku 'bule aneh'. Aku terus melayani pelanggan yang datang tanpa meninggalkan meja kasir walaupun saatnya makan siang. Aku tidak pernah membiarkan diriku menyicipi makan siang. Pelanggan yang datang hari ini cukup ramai hingga aku harus dibantu salah seorang karyawan.
Pukul 5 sore waktunya aku pulang, namun baru saja aku ingin membuka pintu seorang lelaki kurus, berkacamata dan tinggi menghalangi jalanku.
"Mba maaf... Ini bukan kantong belanjaan saya. Sepertinya tertukar." Cowok itu menyodorkan kantongan plastik putih berukuran sedang.
Aku menerimanya dan membuka kantong tersebut. "Maaf, tapi sejauh ini kami belum menerima komplain." kataku sedikit sulit berbahasa Indonesia. Walau sudah lima tahun tapi aku masih sulit menggunakan bahasa ini.
"Ada apa ini?" salah seorang karyawan datang menghampiri kami.
"Begini, ini bukan kantong belanjaan saya. Sepertinya tertukar." jelas cowok itu pada karyawan ini.
"Tapi maaf kami belum menerima komplain dari pelanggan lain. Apa anda mau menunggu?"
karyawan itu mengambil kantong plastik dari tanganku begitu saja.
Aku langsung berjalan tanpa memedulikan mereka.
"Kate!" panggil karyawan itu.
Aku berbalik. "What?"
"Kamu ingin melepas tanggung jawab dan pergi pulang begitu saja? Oh, my God!"
Kemudian tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya berjalan melewatiku sambil membawa kantong plastik yang berukuran besar. Wanita itu menghampiri karyawan yang berteriak padaku tadi. "Maaf, ini bukan belanjaan saya."
Aku berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan permasalahan itu lagi.
Pagi ini aku tidak berangkat kerja. Jadwalku kosong hari ini. Pagi ini aku akan pergi ke kota tua di Jakarta. Dari Bogor aku harus naik kereta hingga stasiun kota tua. Kereta begitu sesak dengan orang yang ingin berangkat kerja, sekolah ataupun mahasiswa. Begitu aku tiba di kota tua aku langsung masuk ke musium.
"Agus, apa kamu bertemu dengannya kemarin?" tanyaku pada salah seorang satpam disana.
Agus menggeleng. "Aku sama sekali tidak melihat batang hidungnya."
Kembali harapanku putus. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menguatkan diriku.
"Sudah 5 tahun, Kate. Sudah waktunya kamu move-on. Lupakan dia. Kamu bisa menemukan yang lebih baik dari dia. Lihat hidupmu sekarang. Sangat berbeda saat kita pertama kali bertemu 5 tahun yang lalu."
Ya, aku sedang menunggu seseorang. Seseorang yang paling penting bagiku. Seseorang yang datang dalam hidupku 7 tahun yang lalu. Dan sekarang dia menghilang seperti di telan bumi, tanpa jejak. Aku tidak pernah tahu dimana dia tinggal tapi ada sebuah janji yang kami buat 5 tahun yang lalu. Dan aku masih berharap dia menepatinya.
Jumat, 13 Januari 2012
When love is not your side (part 9)
Sudah 2 minggu sejak kejadian itu. Aku muali sering berhubungan dengan Nick. Nick sering mengajakku makan malam, pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku datangi dan melakukan hal-hal lain yang menurutku sangat menyenangkan. Di kampus pada awalnya aku menghindari Evren. Aku tidak jadi ikut perlombaan dan aku lebih sering menyendiri. Tapi pada akhirnya Evren mengajakku bicara dan aku mengatakan bahwa aku sempat menyukainya. Evren terkejut dengan pengakuanku tapi setelahnya dia tidak mengubah sikapnya padaku. Dia tetap sering mengacak-acak rambutku, mencubit pipiku dan menjahiliku. Ya, aku akhirnya aku sadar bahwa memang lebih baik seperti ini, Evren bisa menjadi seorang sahabat, teman, bahkan seorang kakak di Turkey menggantikan posisi kakak kandungku yang sekarang masih di Indonesia.
Malam ini Nick mengajakku bertemu di bundaran air mancur sebuaha taman di Izmir. Tidak terasa musim semi akan tiba. Bunga-bunga akan mulai bermekaran dan salju akan mencair dan kemudian menghilang. Nick janji akan datang pukul 20.00 sehabis ia pulang kerja tapi sudah dua jam aku menunggu aku, aku belum melihat batang hidungnya. Berkali-kali aku menelponnya tetapi yang menjawab hanyalah pesan suara. Aku mulai kesal tapi aku tetap saja menunggu disana. Jika pukul 11.00 Nick tidak datang dan tidak menjawab telponku, lebih baik aku pulang, pikirku. Jam ditanganku akhirnya menunjukkan pukul 11.00 dan Nick tetap tidak menjawab bahkan menelponku.
Begitu aku ingin pulang tiba-tiba saja seorang lelaki berpakaian rapi (sepertinya habis dari kantor) memberikanku sebuah balon bewarna pink. Aku menerimanya dan belum sempat aku bertanya lelaki itu langsung pergi. Dan lagi, sekarang seorang lelaki juga yang mengenakan kaos dan celana jeans juga memberikanku sebuah balon bewarna pink dan aku tetap tidak punya kesempatan untuk bertanya apapun. Hal ini terus terjadi baik itu dari pengantar pizza, pengamen bahkan sampai seorang anak kecil (ada anak kecil jam segini di tempat seperti ini?). Kalau aku tidak salah hitung, balon itu kini berjumlah 20 buah dan semuanya bewarna pink.
Hal yang aneh tidak hanya sampai disitu saja. Satu persatu datang 3 orang yang memainkan alat musik biola, gitar, dan terompet yang memainkan musik klasik yang tidak terlalu aku kenal. Kemudian tiba-tiba saja banyak lampu menyala disekeliling air mancur dan itu sangaaat baguuus. AKu terkesima dengan semuanya. Beberapa orang yang masih berada disekitar taman datang untuk melihat bagusnya lampu ini. Ketika aku sedang asik menikmati cantiknya kilauan lampu yang terpancar dari sekeliling air mancur, tiba-tiba lagu berubah menjadi lagu 'Happy Birthday'. Aku langsung memalingkan pandanganku dan dari kejauhan seseorang datang membawa sebuah kue dan sebuah balon pink.
Aku tahu kalau orang itu adalah Nick. Aku tidak bisa menyembunyikan dan menahan senyumku. Oh, my God! Apa yang dia lakukan??
"Happy birthday..." ucap Nick begitu ia berada dihadapanku.
AKu tidak bisa menyembunyikan perasaan malu dan aku yakin sekarang wajahku sudah memerah seperti tomat. Nick menyerahkan balon yang ada ditangannya padaku.
"Blow it..." kata Nick.
Aku meniup lilin kemudian semua orang yang ada disana bertepuk tangan untukku.
"What are you doing, huh...?" tanyaku sambil meninju pelan lengannya.
"Surprised.." Nick memberikan kue itu pada pemain musik biola. Kemudian Nick merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan bewarna merah. Nick membukannya dan terdapat sebuah cincin didalamnya. Nick menyerahkannya padaku dan berkata " Do you want to be my girl in my life?"
"Say yes... say yesss..." orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berteriak.
Oh, my God!! Apa ini?? Jantungku berdegup kencang dan tanganku bergetar. "Propose me?"
Nick hanya tersenyum dan masih menunggu jawabanku.
"Yeah, i want." jawabku pada akhirnya. Seketika semua orang berteriak, ada pula bersiul dan bertepuk tangan. Nick memasang cincin itu di jari manisku. Kemudian Nick mengecup dahiku dan memelukku. "Thanks.." bisik Nick.
Aku dan Nick masih duduk di sekitar air mancur begitu orang-orang yang melihat kejadian itu sudah bubar.
"I thought you won't come.."
Nick hanya tertawa dan menggenggam tangan kananku. "Sorry because i've made you wait so long..Is it cold?" Nick menghembuskan nafasnya ke tanganku.
"It's ok... Thanks so much for this surprised. It's first time i get 21 balloons and this..." aku menunjuk cincin yang terpasang manis di jariku.
Itulah awal dari kebahagiaanku. Nick tidak pernah marah, selalu memberikanku cintanya seutuhnya, selalu ada saat aku membutuhkannya dan selalu ada waktu untukku. Aku diperlakukan selayaknya seorang putri. Tidak pernah ada kata putus yang terucap selama 4 tahun berpacaran. Nick selalu memberikan surprised yang unik dan selalu bisa membuatku tertawa. Tidak ada kata bosan yang terucap saat aku bersama Nick. Evren akhirnya mengenalkan Clara padaku. Sam meninggal saat tahun terakhirku di Izmir. Aku cukup terpukul akan kejadian itu. Tidak ada lagi seorang kakek di Izmir sebaik Sam. Toko Sam terpaksa ditutup dan di jual oleh cucunya karena tidak ada yang mengelola. Sedangkan Luna mendapat beasiswa ke Amerika dan melanjutkan studi manajemen bisnis disana.
Setelah 4 tahun berpacaran, Nick melamarku dan akhirnya aku menetap tinggal di Izmir, Turkey. Kami membeli sebuah apartemen yang sangat bagus menurutku. Tidak akan pernah habis kata untuk mengungkapkan kebaikan Nick padaku. Sesekali orangtua dan kakakku juga mengunjungiku ke Izmir. Begitu pula dengan aku dan Nick. Begitulah kehidupanku bersama my prince charming, Nick.
-The End-
Malam ini Nick mengajakku bertemu di bundaran air mancur sebuaha taman di Izmir. Tidak terasa musim semi akan tiba. Bunga-bunga akan mulai bermekaran dan salju akan mencair dan kemudian menghilang. Nick janji akan datang pukul 20.00 sehabis ia pulang kerja tapi sudah dua jam aku menunggu aku, aku belum melihat batang hidungnya. Berkali-kali aku menelponnya tetapi yang menjawab hanyalah pesan suara. Aku mulai kesal tapi aku tetap saja menunggu disana. Jika pukul 11.00 Nick tidak datang dan tidak menjawab telponku, lebih baik aku pulang, pikirku. Jam ditanganku akhirnya menunjukkan pukul 11.00 dan Nick tetap tidak menjawab bahkan menelponku.
Begitu aku ingin pulang tiba-tiba saja seorang lelaki berpakaian rapi (sepertinya habis dari kantor) memberikanku sebuah balon bewarna pink. Aku menerimanya dan belum sempat aku bertanya lelaki itu langsung pergi. Dan lagi, sekarang seorang lelaki juga yang mengenakan kaos dan celana jeans juga memberikanku sebuah balon bewarna pink dan aku tetap tidak punya kesempatan untuk bertanya apapun. Hal ini terus terjadi baik itu dari pengantar pizza, pengamen bahkan sampai seorang anak kecil (ada anak kecil jam segini di tempat seperti ini?). Kalau aku tidak salah hitung, balon itu kini berjumlah 20 buah dan semuanya bewarna pink.
Hal yang aneh tidak hanya sampai disitu saja. Satu persatu datang 3 orang yang memainkan alat musik biola, gitar, dan terompet yang memainkan musik klasik yang tidak terlalu aku kenal. Kemudian tiba-tiba saja banyak lampu menyala disekeliling air mancur dan itu sangaaat baguuus. AKu terkesima dengan semuanya. Beberapa orang yang masih berada disekitar taman datang untuk melihat bagusnya lampu ini. Ketika aku sedang asik menikmati cantiknya kilauan lampu yang terpancar dari sekeliling air mancur, tiba-tiba lagu berubah menjadi lagu 'Happy Birthday'. Aku langsung memalingkan pandanganku dan dari kejauhan seseorang datang membawa sebuah kue dan sebuah balon pink.
Aku tahu kalau orang itu adalah Nick. Aku tidak bisa menyembunyikan dan menahan senyumku. Oh, my God! Apa yang dia lakukan??
"Happy birthday..." ucap Nick begitu ia berada dihadapanku.
AKu tidak bisa menyembunyikan perasaan malu dan aku yakin sekarang wajahku sudah memerah seperti tomat. Nick menyerahkan balon yang ada ditangannya padaku.
"Blow it..." kata Nick.
Aku meniup lilin kemudian semua orang yang ada disana bertepuk tangan untukku.
"What are you doing, huh...?" tanyaku sambil meninju pelan lengannya.
"Surprised.." Nick memberikan kue itu pada pemain musik biola. Kemudian Nick merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan bewarna merah. Nick membukannya dan terdapat sebuah cincin didalamnya. Nick menyerahkannya padaku dan berkata " Do you want to be my girl in my life?"
"Say yes... say yesss..." orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berteriak.
Oh, my God!! Apa ini?? Jantungku berdegup kencang dan tanganku bergetar. "Propose me?"
Nick hanya tersenyum dan masih menunggu jawabanku.
"Yeah, i want." jawabku pada akhirnya. Seketika semua orang berteriak, ada pula bersiul dan bertepuk tangan. Nick memasang cincin itu di jari manisku. Kemudian Nick mengecup dahiku dan memelukku. "Thanks.." bisik Nick.
Aku dan Nick masih duduk di sekitar air mancur begitu orang-orang yang melihat kejadian itu sudah bubar.
"I thought you won't come.."
Nick hanya tertawa dan menggenggam tangan kananku. "Sorry because i've made you wait so long..Is it cold?" Nick menghembuskan nafasnya ke tanganku.
"It's ok... Thanks so much for this surprised. It's first time i get 21 balloons and this..." aku menunjuk cincin yang terpasang manis di jariku.
Itulah awal dari kebahagiaanku. Nick tidak pernah marah, selalu memberikanku cintanya seutuhnya, selalu ada saat aku membutuhkannya dan selalu ada waktu untukku. Aku diperlakukan selayaknya seorang putri. Tidak pernah ada kata putus yang terucap selama 4 tahun berpacaran. Nick selalu memberikan surprised yang unik dan selalu bisa membuatku tertawa. Tidak ada kata bosan yang terucap saat aku bersama Nick. Evren akhirnya mengenalkan Clara padaku. Sam meninggal saat tahun terakhirku di Izmir. Aku cukup terpukul akan kejadian itu. Tidak ada lagi seorang kakek di Izmir sebaik Sam. Toko Sam terpaksa ditutup dan di jual oleh cucunya karena tidak ada yang mengelola. Sedangkan Luna mendapat beasiswa ke Amerika dan melanjutkan studi manajemen bisnis disana.
Setelah 4 tahun berpacaran, Nick melamarku dan akhirnya aku menetap tinggal di Izmir, Turkey. Kami membeli sebuah apartemen yang sangat bagus menurutku. Tidak akan pernah habis kata untuk mengungkapkan kebaikan Nick padaku. Sesekali orangtua dan kakakku juga mengunjungiku ke Izmir. Begitu pula dengan aku dan Nick. Begitulah kehidupanku bersama my prince charming, Nick.
-The End-
When love is not in your side (part 8)
Aku terbangun dari tidurku. Begitu aku membuka mata aku langsung terduduk dan melihat sekeliling tempat aku berada. Suatu ruangan yang belum pernah aku datangi, ruang tidur yang sangat rapi. Ruangan ini sangat hangat dan tidak ada seorangpun berada disana. Aku mencoba untuk bangun dari tempat tidur tapi kepalaku sangat berat dan sakit. Perlahan aku berjalan keluar kamar sambil memegang kepalaku yang sangat sakit. Begitu aku membuka kamar, aku melihat seorang pria yang sedang menelpon di pojok ruangan dan dia menyadari kehadiranku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena pandanganku mulai kabur. Cowok itu mulai mendekat dan dengan sigap menangkap tubuhku yang hampir jatuh ke lantai.
"What are you doing, huh?" dari suaranya aku tahu kalau dia Nick. Nick membantuku kembali ke kamar dan berbaring di atas tempat tidur. "I've called a doctor so you can stay here for a while"
"Thanks" kataku dan mencoba untuk memejamkan mata.
"What did you do in outside? Haven't you eaten?" dari nada suaranya aku yakin Nick mencemaskanku. "Do you want something?"
"No, thanks. I just need a rest."
"Ok. I have made a soup."
"No, no, no..."
"you should eat something!"
"Nick, don't be nice to me. It'll hurt you."
"Don't say anything. I've said you that i just repay now."
"Get some sleep. I'll be here."
"Thanks Nick, you're so kind."
Aku membuka mata dan yang pertama kulihat adalah Nick yang tertidur di samping tempat tidur sambil menggenggam tanganku. Wajahnya begitu damai dilihat ketika ia sedang tidur. Aku yakin dia semaleman berada disampingku. Aku masih merasa sedikit pusing. Perlahan aku menarik tanganku dan berjalan keluar ruangan. Apartemen ini cukup luas untuk tinggal sendirian. Setiap sudut tertata dengan rapi. Dari balkon dapat melihat sebagian kota Izmir yang aku yakin saat malam hari pasti sangat bagus. Dapur yang langsung menghadap ruang santai tanpa adanya ruang tamu. Ruangan yang begitu minimalis. Aku pikir tidak ada salahnya jika aku membuat sarapan untuk Nick sebelum ia pergi. Aku mencoba membuatkan roti bakar, telur mata sapi dan kopi.
Ketika aku sedang menata sarapan untuk Nick diatas meja, Nick keluar kamar dengan rambut berantakan dan ia cukup kaget melihatku berada di dapurnya.
"What are you doing here?"
"Nothing. Just serve your breakfast before i go."
"Breakfast?" Nick menghampiriku dan mendaratkan telapak tangannya di dahiku, merasakan suhu tubuhku. "I think fever has gone down. How are you feeling?"
"I'm better."
"I'll make a soup so you can breakfast here."
Aku menghentikan langkah Nick yang ingin masuk dapur. "I'm not hungry. I'll prepare to go my apartment. So you can eat your breakfast."
Aku kembali ke kamar, mandi dan mengenakan pakaianku yang kemarin. Aku keluar kamar dan mendapati Nick yang menatap makanan yang aku siapkan tanpa menyentuhnya sedikitpun.
"I'll take you."
"No, It's ok. Thanks a lot for everything."
"No, no! Wait here, i'll take you. 5 minutes." Nick langsung melesat masuk ke kamarnya.
Aku menikmati dinginnya udara pagi di balkon sambil menunggu Nick. Tidak lama kemudian Nick memanggilku dan mengajakku untuk keluar apartemen.
"Nick, may i ask you something?" kataku memulai pembicaraan saat kami berada di mobil.
"What?"
"Do you not angry with me? I mean, in flower shop..." Aku menunggu jawaban dari Nick tapi Nick tampaknya tidak ingin menjawabnya. Pertanyaan bodoh! Pasti dia masih marah sama aku. Dia hanya menolongku saja saat malam itu.
Akhirnya kami tiba di depan apartemenku. Aku dan Nick keluar dari mobil secara bersamaan dan Nick berjalan mendekatiku.
"Thanks Nick. Bye.." kataku.
"Hei..." Nick memanggilku begitu aku membalikkan badan. "You real name?" tanyanya.
"Fairy."
Nick mengulurkan tangannya. "Nick."
Aku menjabat tangannya dengan ragu.
"nice to meet you." katanya lagi.
Semakin aneh, pikirku. "Nick.."
"Let we start again from begin."
"Nick.."
"Ok, See ya... Don't forget to eat." katanya dan Nick langsung masuk ke mobil. Dia melambaikan tangan padaku begitu mesin mobil menyala. Aku masih terpaku dengan kejadian tadi.
"What are you doing, huh?" dari suaranya aku tahu kalau dia Nick. Nick membantuku kembali ke kamar dan berbaring di atas tempat tidur. "I've called a doctor so you can stay here for a while"
"Thanks" kataku dan mencoba untuk memejamkan mata.
"What did you do in outside? Haven't you eaten?" dari nada suaranya aku yakin Nick mencemaskanku. "Do you want something?"
"No, thanks. I just need a rest."
"Ok. I have made a soup."
"No, no, no..."
"you should eat something!"
"Nick, don't be nice to me. It'll hurt you."
"Don't say anything. I've said you that i just repay now."
"Get some sleep. I'll be here."
"Thanks Nick, you're so kind."
Aku membuka mata dan yang pertama kulihat adalah Nick yang tertidur di samping tempat tidur sambil menggenggam tanganku. Wajahnya begitu damai dilihat ketika ia sedang tidur. Aku yakin dia semaleman berada disampingku. Aku masih merasa sedikit pusing. Perlahan aku menarik tanganku dan berjalan keluar ruangan. Apartemen ini cukup luas untuk tinggal sendirian. Setiap sudut tertata dengan rapi. Dari balkon dapat melihat sebagian kota Izmir yang aku yakin saat malam hari pasti sangat bagus. Dapur yang langsung menghadap ruang santai tanpa adanya ruang tamu. Ruangan yang begitu minimalis. Aku pikir tidak ada salahnya jika aku membuat sarapan untuk Nick sebelum ia pergi. Aku mencoba membuatkan roti bakar, telur mata sapi dan kopi.
Ketika aku sedang menata sarapan untuk Nick diatas meja, Nick keluar kamar dengan rambut berantakan dan ia cukup kaget melihatku berada di dapurnya.
"What are you doing here?"
"Nothing. Just serve your breakfast before i go."
"Breakfast?" Nick menghampiriku dan mendaratkan telapak tangannya di dahiku, merasakan suhu tubuhku. "I think fever has gone down. How are you feeling?"
"I'm better."
"I'll make a soup so you can breakfast here."
Aku menghentikan langkah Nick yang ingin masuk dapur. "I'm not hungry. I'll prepare to go my apartment. So you can eat your breakfast."
Aku kembali ke kamar, mandi dan mengenakan pakaianku yang kemarin. Aku keluar kamar dan mendapati Nick yang menatap makanan yang aku siapkan tanpa menyentuhnya sedikitpun.
"I'll take you."
"No, It's ok. Thanks a lot for everything."
"No, no! Wait here, i'll take you. 5 minutes." Nick langsung melesat masuk ke kamarnya.
Aku menikmati dinginnya udara pagi di balkon sambil menunggu Nick. Tidak lama kemudian Nick memanggilku dan mengajakku untuk keluar apartemen.
"Nick, may i ask you something?" kataku memulai pembicaraan saat kami berada di mobil.
"What?"
"Do you not angry with me? I mean, in flower shop..." Aku menunggu jawaban dari Nick tapi Nick tampaknya tidak ingin menjawabnya. Pertanyaan bodoh! Pasti dia masih marah sama aku. Dia hanya menolongku saja saat malam itu.
Akhirnya kami tiba di depan apartemenku. Aku dan Nick keluar dari mobil secara bersamaan dan Nick berjalan mendekatiku.
"Thanks Nick. Bye.." kataku.
"Hei..." Nick memanggilku begitu aku membalikkan badan. "You real name?" tanyanya.
"Fairy."
Nick mengulurkan tangannya. "Nick."
Aku menjabat tangannya dengan ragu.
"nice to meet you." katanya lagi.
Semakin aneh, pikirku. "Nick.."
"Let we start again from begin."
"Nick.."
"Ok, See ya... Don't forget to eat." katanya dan Nick langsung masuk ke mobil. Dia melambaikan tangan padaku begitu mesin mobil menyala. Aku masih terpaku dengan kejadian tadi.
Minggu, 08 Januari 2012
when love is not your side (part 7)
Aku berjalan menyusuri koridor kampus mencari Evren sambil membawa sebuah brosur yang aku dapat dari perpustakaan. Kemudian aku ingat satu hal, bahwa Evren pasti berada di gym bersama tim basketnya. Aku langsung berlari ke gym dan benar saja aku menemukannya sedang duduk bersama teman-temannya di tengah lapangan. Aku berlari kearahnya dan Evren melambaikan tangan pada begitu ia melihatku berlari kearahnya.
"Hi" sapaku pada semuanya.
"Hi" balas beberapa dari mereka.
"Evren, can we talk for a while?"
"Of course. Come on" Evren berdiri dan mengajakku ke pinggir lapangan. "What's up?"
Aku menyerahkan brosur yang aku bawa padanya. Evren membacanya sekilas lalu ia mengerutkan dahinya. "Photography competition?"
Aku mengangguk. "I want to join. But minimum to allowed is 2 people. Do you want join me?"
"No."
"Please. Look, if you enter the final round you can go to French. French!"
"So what?"
"I need you, please." kataku hampir putus asa.
"Ok, what theme will you take?"
"It's all about us. You, me, and Sam. How?"
"Not interested."
Aku menunduk. "Ok, i will look someone else."
"Ok, ok. So what must i do?"
"Really? you want join me?"
Evren mengacak-acak rambutku. Aku membiarkannya karena aku sudah terbiasa ia melakukan itu. "Isssh, of course. First, i want to buy camera. I have enough money and we take picture from tomorrow."
"no no no... Save your money. I will borrow you."
"Really? wow.. how lucky i am.. Thanks a lot..."
Evren tertawa dan kembali mengacak-acak rambutku. "Yeah, you are lucky because you have a guardian like me."
Ya, Evren. Kamu memang guardian angel aku. Tetaplah seperti ini, Evren kataku dalam hati.
"Ok, i go first. I want see Sam. Bye..."
"Yeah, take care.. Bye..."
Aku pergi ke toko Sam dan selama perjalanan aku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Bagaimana tidak? Evren ikut lomba denganku, dipinjami kamera, dan yang paling penting ia bilang ia adalah my guardian. Wow, rasanya aku ingin melayang sampai langit ke tujuh, menari-nari dan melakukan hal konyol lainnya.
"Sam, Luna.." teriakku begitu aku masuk ke toko.
"Hi.." sapa Luna yang muncul secara tiba-tiba dari bawah meja kasir.
"Hi, dear.." sapa Sam yang muncul dari ruangannya.
"What are you in there, Luna?"
"I'm looking for a dropped hairpins. And here it is" jawabnya sambil menunjukkan jepit rambutnya padaku.
"Ok... Hey, Luna, Sam, i want ask something."
"What is it, dear?" tanya Sam yang sekarang duduk disampingku.
"If a guy said to a girl that she is his girl. What is the meaning? Is he love her?" tanyaku hati-hati.
"I think yeah." jawab Luna spontan.
"Who is that guy? And the girl is you, dear?"
"Aaaah, nooo... not me. my friend" jawabku salah tingkah.
"I don't believe. She is you, right?"
"then why are you blush?" Sam mulai menggodaku. "Who is the guy? I know him?"
"Is he Evren?" Luna mulai menebak.
Oops, kenapa begitu tepat. Apa Evren pernah mengatakan sesuatu?
"If that guy is Evren, get rid of that feeling from now on" kata Sam padaku. Aku melihat keseriusan di matanya. AKu belum pernah melihatnya seperti ini. "Before you hurt, dear."
Ada apa? Evren orang yang baik. Sam tahu itu. Kenapa Evren tidak boleh. "Why?"
"Is it true that the guy is Evren?" tanya Luna penasaran.
Aku mengabaikan pertanyaan Luna. "Sam, what happened? Evren is good guy, right?"
"I said no, dear."
"Is he playboy?" aku mulai penasaran.
"Yeah, Sam's right. Forget him if he is Evren." Luna mulai berpihak pada Sam. Aku semakin penasaran.
"Luna, Sam... Please tell me. Ok, that guy is Evren. He said that i'm his girl, he is my guardian, and he is.." aku mulai berkaca-kaca.
Luna menghampiriku dan memelukku dengan erat. "Sam..." Luna memberi isyarat pada Sam.
"Evren has fiancee. Her name is Clara. Now she live in London. She took a design school there."
Baru saja aku melayang ke langit ke tujuh, aku langsung dijatuhkan ke paling dasar bumi. Oh my God! Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar.
"Fairy!" teriak Luna memanggilku.
Aku terus berjalan tanpa arah seperti orang yang kehilangan kesadarannya. Kakiku gemetar dan aku merasa air mataku sudah menetes keluar. Aku harus mencari kejelasan. Aku hapus air mataku dan berlari ke gym. Gym sudah sepi begitu aku tiba dan aku melihat Evren yang sedang merapikan tasnya. Evren menyadari kedatanganku dan membawa tasnya menghampiriku.
"What's going on?" tanyanya heran padaku.
"Do you have fiancee? Clara?" tanyaku langsung.
"How do you know?" tanya Evren heran.
"So is it true?" aku tidak bisa menahan air mataku keluar.
"Hei, what's wrong?" Evren menghapus air mata di pipiku dengan lembut.
"Answer me, Evren."
"ok, it's true." Evren masih heran melihatku seperti ini.
"Do you love her?"
"Of, course."
Aku merasa dadaku semakin sakit. "So what do you mean said to me that i'm your girl, and you're my guardian, huh?"
"Because you are my sister. You are my little sister. I love you as a sister."
Dadaku semakin sakit sekarang. Adik? Betapa bodohnya aku bisa punya perasaan seperti ini. Aku membalikkan badan tapi Evren menghentikanku. "What happened? Tell me, huh?"
AKu mengabaikannya. Aku terus berjalan meninggalkannya. Aku berjalan tanpa arah. Tuhan, kenapa harus begini? Tuhan, aku merasa sakit. Sakit sekali. Apa sakit yang dirasakan Nick seperti ini? Atau lebih?
Aku berhenti di tepi jalan. Ini pertama kalinya aku menyukai seorang cowok tapi kenapa begini akhirnya? Kenapa harus Evren yang aku suka? Kenapa Evren harus bertemu dengan Clara? Kenapa tidak aku yang pertama bertemu dengannya? Aku kembali melangkahkan kakiku menyebrang jalan. Tapi baru saja ditengah jalan, lampu hijau sudah menyala. Aku terus berjalan dan klakson mobil terus berteriak kearahku. Aku mendengar beberapa dari pengemudi mengumpat padaku. Aku hanya menundukkan kepala dan terus berjalan. Aku duduk ditepi taman dan salju kembali turun. Aku mendengar telponku terus berdering. Evren terus menghubungiku. Aku mematikan handphone dan menangis terisak disana. Aku tidak peduli orang lain yang memerhatikanku.
Tidak terasa hari sudah mulai gelap dan salju terus turun sejak tadi sore. Aku merasa seluruh tubuhku sudah membeku. Kepalaku pusing taoi Aku tidak punya tenaga untuk bangun hingga akirnya aku membiarkan tubuhku diselimuti udara dingin.
Kemudian seseorang berdiri tepat dihadapanku. Ia mengenakan mantel cokelat yang panjang aku mencoba melihat wajahnya dan betapa terkejutnya aku bahwa orang itu adalah Nick.
"What are you doing here?"
"none of your business"
Nick melepaskan sarung tangannya dan ia menyentuh pipiku. Tangannya begitu hangat. Aku melihat wajahnya yang aneh. "How long have you been here?"
"I said it's none of your business!" aku terus menahan air mataku yang bersikeras ingin jatuh.
"Do you wanna die?" tanyanya setengah berteriak. "Come on.." Nick membungkuk dan menyuruhku naik ke punggungnya.Aku mengabaikannya tapi Nick memaksa dan akhirnya aku menurut.
Nick membawaku masuk ke mobilnya. Lalu ia menyalakan pemanas. Nick membuka mantel dan syalnya, lalu mengenakannya padaku.
"Where is your home? Have you eaten?"
"Is it hurt? When you broken hurt, is it so hurt like this?"
"What are you talking about?"
"Why are you still care with me? I've hurt you?"
"I just repay you."
"Hi" sapaku pada semuanya.
"Hi" balas beberapa dari mereka.
"Evren, can we talk for a while?"
"Of course. Come on" Evren berdiri dan mengajakku ke pinggir lapangan. "What's up?"
Aku menyerahkan brosur yang aku bawa padanya. Evren membacanya sekilas lalu ia mengerutkan dahinya. "Photography competition?"
Aku mengangguk. "I want to join. But minimum to allowed is 2 people. Do you want join me?"
"No."
"Please. Look, if you enter the final round you can go to French. French!"
"So what?"
"I need you, please." kataku hampir putus asa.
"Ok, what theme will you take?"
"It's all about us. You, me, and Sam. How?"
"Not interested."
Aku menunduk. "Ok, i will look someone else."
"Ok, ok. So what must i do?"
"Really? you want join me?"
Evren mengacak-acak rambutku. Aku membiarkannya karena aku sudah terbiasa ia melakukan itu. "Isssh, of course. First, i want to buy camera. I have enough money and we take picture from tomorrow."
"no no no... Save your money. I will borrow you."
"Really? wow.. how lucky i am.. Thanks a lot..."
Evren tertawa dan kembali mengacak-acak rambutku. "Yeah, you are lucky because you have a guardian like me."
Ya, Evren. Kamu memang guardian angel aku. Tetaplah seperti ini, Evren kataku dalam hati.
"Ok, i go first. I want see Sam. Bye..."
"Yeah, take care.. Bye..."
Aku pergi ke toko Sam dan selama perjalanan aku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Bagaimana tidak? Evren ikut lomba denganku, dipinjami kamera, dan yang paling penting ia bilang ia adalah my guardian. Wow, rasanya aku ingin melayang sampai langit ke tujuh, menari-nari dan melakukan hal konyol lainnya.
"Sam, Luna.." teriakku begitu aku masuk ke toko.
"Hi.." sapa Luna yang muncul secara tiba-tiba dari bawah meja kasir.
"Hi, dear.." sapa Sam yang muncul dari ruangannya.
"What are you in there, Luna?"
"I'm looking for a dropped hairpins. And here it is" jawabnya sambil menunjukkan jepit rambutnya padaku.
"Ok... Hey, Luna, Sam, i want ask something."
"What is it, dear?" tanya Sam yang sekarang duduk disampingku.
"If a guy said to a girl that she is his girl. What is the meaning? Is he love her?" tanyaku hati-hati.
"I think yeah." jawab Luna spontan.
"Who is that guy? And the girl is you, dear?"
"Aaaah, nooo... not me. my friend" jawabku salah tingkah.
"I don't believe. She is you, right?"
"then why are you blush?" Sam mulai menggodaku. "Who is the guy? I know him?"
"Is he Evren?" Luna mulai menebak.
Oops, kenapa begitu tepat. Apa Evren pernah mengatakan sesuatu?
"If that guy is Evren, get rid of that feeling from now on" kata Sam padaku. Aku melihat keseriusan di matanya. AKu belum pernah melihatnya seperti ini. "Before you hurt, dear."
Ada apa? Evren orang yang baik. Sam tahu itu. Kenapa Evren tidak boleh. "Why?"
"Is it true that the guy is Evren?" tanya Luna penasaran.
Aku mengabaikan pertanyaan Luna. "Sam, what happened? Evren is good guy, right?"
"I said no, dear."
"Is he playboy?" aku mulai penasaran.
"Yeah, Sam's right. Forget him if he is Evren." Luna mulai berpihak pada Sam. Aku semakin penasaran.
"Luna, Sam... Please tell me. Ok, that guy is Evren. He said that i'm his girl, he is my guardian, and he is.." aku mulai berkaca-kaca.
Luna menghampiriku dan memelukku dengan erat. "Sam..." Luna memberi isyarat pada Sam.
"Evren has fiancee. Her name is Clara. Now she live in London. She took a design school there."
Baru saja aku melayang ke langit ke tujuh, aku langsung dijatuhkan ke paling dasar bumi. Oh my God! Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar.
"Fairy!" teriak Luna memanggilku.
Aku terus berjalan tanpa arah seperti orang yang kehilangan kesadarannya. Kakiku gemetar dan aku merasa air mataku sudah menetes keluar. Aku harus mencari kejelasan. Aku hapus air mataku dan berlari ke gym. Gym sudah sepi begitu aku tiba dan aku melihat Evren yang sedang merapikan tasnya. Evren menyadari kedatanganku dan membawa tasnya menghampiriku.
"What's going on?" tanyanya heran padaku.
"Do you have fiancee? Clara?" tanyaku langsung.
"How do you know?" tanya Evren heran.
"So is it true?" aku tidak bisa menahan air mataku keluar.
"Hei, what's wrong?" Evren menghapus air mata di pipiku dengan lembut.
"Answer me, Evren."
"ok, it's true." Evren masih heran melihatku seperti ini.
"Do you love her?"
"Of, course."
Aku merasa dadaku semakin sakit. "So what do you mean said to me that i'm your girl, and you're my guardian, huh?"
"Because you are my sister. You are my little sister. I love you as a sister."
Dadaku semakin sakit sekarang. Adik? Betapa bodohnya aku bisa punya perasaan seperti ini. Aku membalikkan badan tapi Evren menghentikanku. "What happened? Tell me, huh?"
AKu mengabaikannya. Aku terus berjalan meninggalkannya. Aku berjalan tanpa arah. Tuhan, kenapa harus begini? Tuhan, aku merasa sakit. Sakit sekali. Apa sakit yang dirasakan Nick seperti ini? Atau lebih?
Aku berhenti di tepi jalan. Ini pertama kalinya aku menyukai seorang cowok tapi kenapa begini akhirnya? Kenapa harus Evren yang aku suka? Kenapa Evren harus bertemu dengan Clara? Kenapa tidak aku yang pertama bertemu dengannya? Aku kembali melangkahkan kakiku menyebrang jalan. Tapi baru saja ditengah jalan, lampu hijau sudah menyala. Aku terus berjalan dan klakson mobil terus berteriak kearahku. Aku mendengar beberapa dari pengemudi mengumpat padaku. Aku hanya menundukkan kepala dan terus berjalan. Aku duduk ditepi taman dan salju kembali turun. Aku mendengar telponku terus berdering. Evren terus menghubungiku. Aku mematikan handphone dan menangis terisak disana. Aku tidak peduli orang lain yang memerhatikanku.
Tidak terasa hari sudah mulai gelap dan salju terus turun sejak tadi sore. Aku merasa seluruh tubuhku sudah membeku. Kepalaku pusing taoi Aku tidak punya tenaga untuk bangun hingga akirnya aku membiarkan tubuhku diselimuti udara dingin.
Kemudian seseorang berdiri tepat dihadapanku. Ia mengenakan mantel cokelat yang panjang aku mencoba melihat wajahnya dan betapa terkejutnya aku bahwa orang itu adalah Nick.
"What are you doing here?"
"none of your business"
Nick melepaskan sarung tangannya dan ia menyentuh pipiku. Tangannya begitu hangat. Aku melihat wajahnya yang aneh. "How long have you been here?"
"I said it's none of your business!" aku terus menahan air mataku yang bersikeras ingin jatuh.
"Do you wanna die?" tanyanya setengah berteriak. "Come on.." Nick membungkuk dan menyuruhku naik ke punggungnya.Aku mengabaikannya tapi Nick memaksa dan akhirnya aku menurut.
Nick membawaku masuk ke mobilnya. Lalu ia menyalakan pemanas. Nick membuka mantel dan syalnya, lalu mengenakannya padaku.
"Where is your home? Have you eaten?"
"Is it hurt? When you broken hurt, is it so hurt like this?"
"What are you talking about?"
"Why are you still care with me? I've hurt you?"
"I just repay you."
Sabtu, 07 Januari 2012
When love is not in your side (part 6)
Dua minggu berlalu sejak kejadian itu. Nick tidak menghubungiku sama sekali. Aku mencoba menghubunginya tetapi selalu tidak ada jawaban. Mungkin ini yang terbaik, pikirku. Aku banyak menghabiskan hari-hariku bersama Sam dan Evren. Bersama mereka aku bisa melupakan Nick. Nick hanyalah tinggal kenangan. Aku mungkin tidak akan beremu lagi dengannya dan bahkan mungkin dia tidak ingin melihatku. Siang ini, aku dan Luna akan pergi ke salon. Aku ingin memotong rambutku yang sudah panjang dan memanjakan diriku sejenak disana.
Aku memotong rambutku sangat pendek, seperti Sunny personil SNSD (girlband korea). Yup, aku sangat menyukai artis-artis korea. Mereka cukup keren menurutku. Luna hanya melakukan perawatan dasar seperti creambath, pedicure, manicure dan lulur. Kami manghabiskan waktu selama 2 jam di salon lalu kembali lagi ke toko Sam. Begitu melihat rambutku yang 'habis' Sam langsung menghampiriku dengan wajah melongo.
"What happen with your hair?"
"Nice, huh?"
"Sam, is Fairy back?"
Aku menoleh ke asal suara yang mencariku, Evren. "I'm here.." kataku melambaikan tangan kearahnya.
Evren terdiam untuk beberapa saat. "What happen with your hair, huh?" Evren mendekat dan mengelilingiku.
"What's wrong? Not only you, Sam asked me that too."
"Not bad" kata Evren lalu mengacak-acak rambutku.
"Hei!" aku merapikan rambutku sambil cemberut. Evren tertawa melihatku yang cemberut. Kemudian ia masuk dan menyapa Luna.
"You still beauty, dear... Come on.." Sam mengajakku masuk.
Lalu sebuah mobil berhenti tepat di depan toko Sam. Seorang cowok keluar dan aku sangat mengenal orang ini, Nick. Nick masuk ke dalam dan menghentikan langkahnya begitu ia melihat keberadaanku disana. Luna menghampirinya, "Hello... What flowers are you looking?"
Selama beberapa saat Nick masih menatap tajam kearahku. Aku bisa melihat tatapan kebencian dari matanya.
"Excuse me.." Luna kembali mencoba menyapa Nick.
"Yeah, I'm looking white roses." Nick masih terus menatapku.
"Do you know him?" tanya Evren yang menyadari keanehan Nick.
Aku menunduk. "Yeah.." kataku pelan.
"Who is he? Your friend? Is there any problem?"
Aku hanya diam.
"Tell me"
Aku melihat Luna memberikan serangkai mawar putih. Lalu Nick membayarnya dan pergi begitu saja. Aku mengejarnya dan menghalanginya masuk ke mobil.
"Nick.. Have you been well?."
"Now what?"
"I'm sorry... So sorry..."
"Go! I do not want to see you again" Nick mendorongku menjauhinya.
"Nick, please don't be like this... We can be a friend,can't we?"
"What?? Friend? After you hurt me? Lied me? don't kidding me! Go away from my life!" Nick masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja.
Aku kembali terisak. Evren menghampiriku. "What's going on?" Evren mendekapku kedalam pelukannya. Aku menangis terisak di dadanya.
Aku menceritakan semua pada Evren. Tidak sedikitpun yang aku lewatkan, aku tambahkan atau aku kurangi. Aku menceritakannya sesuai yang terjadi.
"I'm so sorry..."
"sssst..." Evren memelukku lagi dan mengelus-elus kepalaku. "You are not completely guilt. Now, forget it, huh?"
Aku masih terisak.
"You are a good girl.. You have me, Sam, Luna so don't be sad. Cheer up, my girl."
Hah? Aku nggak salah denger, kan? 'my girl'? Aku berhenti menangis dan sekarang jantungku berdegup kencang. Aku melepaskan pelukan Evren. Aku menghapus airmataku.
"Yeah, that's good. Stop crying! Today, are you go to work?"
Aku mengangguk.
"That's good. Make me some cookies! Chocolate cookies."
"Aiisssh.." kataku kesal.
"What? I'd entertain you."
"Okay, okay...!"
Evren tertawa lalu mengacak-acak rambutku lagi.
"HEI!" teriakku padanya.
Evren tertawa melihatku. "Don't cry anymore. i won't let you do it. And i like your hair.."
Oh, my God... Jantungku berdegup semakin kencang. Apa aku mulai menyukainya? Aku rasa jawabannya ya.
Aku memotong rambutku sangat pendek, seperti Sunny personil SNSD (girlband korea). Yup, aku sangat menyukai artis-artis korea. Mereka cukup keren menurutku. Luna hanya melakukan perawatan dasar seperti creambath, pedicure, manicure dan lulur. Kami manghabiskan waktu selama 2 jam di salon lalu kembali lagi ke toko Sam. Begitu melihat rambutku yang 'habis' Sam langsung menghampiriku dengan wajah melongo.
"What happen with your hair?"
"Nice, huh?"
"Sam, is Fairy back?"
Aku menoleh ke asal suara yang mencariku, Evren. "I'm here.." kataku melambaikan tangan kearahnya.
Evren terdiam untuk beberapa saat. "What happen with your hair, huh?" Evren mendekat dan mengelilingiku.
"What's wrong? Not only you, Sam asked me that too."
"Not bad" kata Evren lalu mengacak-acak rambutku.
"Hei!" aku merapikan rambutku sambil cemberut. Evren tertawa melihatku yang cemberut. Kemudian ia masuk dan menyapa Luna.
"You still beauty, dear... Come on.." Sam mengajakku masuk.
Lalu sebuah mobil berhenti tepat di depan toko Sam. Seorang cowok keluar dan aku sangat mengenal orang ini, Nick. Nick masuk ke dalam dan menghentikan langkahnya begitu ia melihat keberadaanku disana. Luna menghampirinya, "Hello... What flowers are you looking?"
Selama beberapa saat Nick masih menatap tajam kearahku. Aku bisa melihat tatapan kebencian dari matanya.
"Excuse me.." Luna kembali mencoba menyapa Nick.
"Yeah, I'm looking white roses." Nick masih terus menatapku.
"Do you know him?" tanya Evren yang menyadari keanehan Nick.
Aku menunduk. "Yeah.." kataku pelan.
"Who is he? Your friend? Is there any problem?"
Aku hanya diam.
"Tell me"
Aku melihat Luna memberikan serangkai mawar putih. Lalu Nick membayarnya dan pergi begitu saja. Aku mengejarnya dan menghalanginya masuk ke mobil.
"Nick.. Have you been well?."
"Now what?"
"I'm sorry... So sorry..."
"Go! I do not want to see you again" Nick mendorongku menjauhinya.
"Nick, please don't be like this... We can be a friend,can't we?"
"What?? Friend? After you hurt me? Lied me? don't kidding me! Go away from my life!" Nick masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja.
Aku kembali terisak. Evren menghampiriku. "What's going on?" Evren mendekapku kedalam pelukannya. Aku menangis terisak di dadanya.
Aku menceritakan semua pada Evren. Tidak sedikitpun yang aku lewatkan, aku tambahkan atau aku kurangi. Aku menceritakannya sesuai yang terjadi.
"I'm so sorry..."
"sssst..." Evren memelukku lagi dan mengelus-elus kepalaku. "You are not completely guilt. Now, forget it, huh?"
Aku masih terisak.
"You are a good girl.. You have me, Sam, Luna so don't be sad. Cheer up, my girl."
Hah? Aku nggak salah denger, kan? 'my girl'? Aku berhenti menangis dan sekarang jantungku berdegup kencang. Aku melepaskan pelukan Evren. Aku menghapus airmataku.
"Yeah, that's good. Stop crying! Today, are you go to work?"
Aku mengangguk.
"That's good. Make me some cookies! Chocolate cookies."
"Aiisssh.." kataku kesal.
"What? I'd entertain you."
"Okay, okay...!"
Evren tertawa lalu mengacak-acak rambutku lagi.
"HEI!" teriakku padanya.
Evren tertawa melihatku. "Don't cry anymore. i won't let you do it. And i like your hair.."
Oh, my God... Jantungku berdegup semakin kencang. Apa aku mulai menyukainya? Aku rasa jawabannya ya.
when love is not in your side (part 5)
Pagi ini aku sengaja meluangkan waktuku untuk mengunjungi Nick di rumah sakit. Hari ini Nick sudah diperbolehkan untuk pulang. Berita yang bagus untukku karena sandiwara yang kulakukan selama ini sebentar lagi akan berakhir. Kehidupanku yang normal akan kembali lagi.
Begitu tiba dirumah sakit aku langsung masuk ke kamarnya. Ruangannya sudah rapi dan kulihat Nick yang sedang duduk ditepi temapt tidur. Aku melihat kesekeliling ruangan dan tidak ada seorang pun disana kecuali Nick dan ia sudah mengganti seragam rumah sakit dengan T-shirt polos berwarna biru dan celana jeans. Aku melihat wajahnya yang lebih segar dari biasanya. Kaktus dan beberapa bunga sudah tidak berada lagi ditempatnya. Aku menghampiri Nick dan duduk disebelahnya.
"How are you?" tanyaku.
"I'm great."
Aku mengangguk. Lalu aku mengambil syal dan jaket di atas sofa. "are you ready to go home now?"
"Not now."
Aku mengerutkan kening. "So when? Doctor said that you..."
"Sarah..." Nick memotong ucapanku. "I want to go to somewhere. Do you want to go with me?"
"Where? Nick you must take some rest."
"Please, dear..." Nick memasang wajah memelas. Aku berfikir untuk beberapa saat dan akhirnya aku bilang "ok."
Nick tersenyum lebar mendengar persetujuanku. "Ok. Let's go."
Nick mengambil syal dan jaketnya dari tanganku lalu ia mengenakannya.
Nick membawaku kesebuah taman yang letaknya cukup jauh dari rumah sakit. Taman yang sangat bagus. Banyak pepohonan yang tumbuh disana. Walaupun sebagian besar ditutupi salju tapi ini luar biasa. Aku belum pernah ke taman ini. Nick mengajakku berjalan di sepanjang jalan setapak di sekitar taman. Kalau sedang musim semi pasti bagus sekali. Sesekali udara dingin menyentuh wajahku. Aku memasukkan kedua tanganku ke saku jaket. Hal yang paling bodoh yang sering aku lakukan adalah tidak membawa syal. Tapi aku tidak memedulikannya karena aku masih terkesan akan tempat ini.
"How?" tanya Nick yang seketika membuyarkan lamunanku. Aku baru menyadari Nick sedang bersamaku.
"Great!"
Nick tertawa melihat ekspresiku. Sepanjang jalan kami tenggelam dalam keheningan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku mengajak Nick untuk duduk di bangku taman yang berada dibawah pohon yang cukup besar. Nick membersihkan tumpukan salju diatas bangku itu lalu mempersilahkanku duduk.
"Nick, how do you know this place?"
Nick mengerutkan keningnya. "Don't you want to go to here? You said that before."
Oh my God!! "aahh, i forgot. i'm happy that you still remember."
Nick hanya tersenyum. "Of, course. But when will you open your gallery? I had not been there."
Galeri?? Hei, aku mana punya galeri, teriakku dalam hati. "mmm... i don't know. i'm not interest about it."
"Not interest??"
"Yeah..."
"you're little weird. You've changed a bit."
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Udara dingin kembali menerpa wajahku. Aku bergidik karena dingin. Nick melihatku dan tertawa kecil. Nick melepaskan syalnya dan melingkarkannya di leherku.
"No.." aku melepaskannya kembali. "you must wear it. you've just recovered"
"No.. you wear it. Look your face. it's looks like a cotton."
"I'm ok... wear it" Aku melingkarkan syal itu ke leher Nick. "Don't argue me!" kataku begitu aku melihat Nick ingin melepasnya kembali.
"Ok, ok.." kata Nick mengalah. "But are you ok?"
"Sure."
Tiba-tiba saja Nick menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Nick, What are you doing?"
" Just for a while.. Can you stay like this just for a while?"
Aku tertegun. Nick kamu salah. Aku bukan Sarah. Aku bukan orang yang kamu harapkan, bukan orang yang kamu sayangi, bukan ornag yang selayaknya mendapatkan kehangatan kamu seperti ini. Orang itu sudah pergi jauh Nick. Air mataku mulai menetes. Secepatnya aku menghapusnya. Aku tidak bisa membiarkan ini lebih jauh. Aku tidak ingin melukai Nick lebih jauh. Ini sudah cukup.
"Nick, i want tell you something"
"what? say it."
"I'm not Sarah."
Nick mengangkat kepalanya. Aku menunduk, aku tidak punya keberanian untuk melihat matanya. "What do you mean?"
"I'm not Sarah, your fiancee. I'm Fairy."
"I'm still not understand. Sarah, don't be like this. You are Sarah, my dear.."
Aku beranikan diri untuk menatap Nick, melihat matanya yang biru. "sarah has died. I became Sarah just for your sake. And now it's over. I won't hurt you anymore and i won't to be liar, Nick. I'm sorry... So sorry..."
Air mataku menetes. Aku melihat Nick juga meneteskan air matanya. "Please Sarah, don't be like this. I love you so much.."
"Please Nick, believe me..." Aku terisak.
Nick diam untuk beberapa saat dan aku melihat air matanya terus mengalir. "Nick...I'm sorry.."
Nick berdiri dan berjalan begitu saja meninggalkanku. Aku mengejarnya dan meraih lengannya. Nick melepaskannya begitu saja.
"Don't ever touch me... How dare you.."
"Nick!!" aku memanggilnya tapi ia terus berjalan hingga menghilang dari pandanganku.
Kakiku lemas, dadaku sakit dan aku hanya bisa menangis ditengah udara yang dingin. Maaf, Nick... maaf...
Begitu tiba dirumah sakit aku langsung masuk ke kamarnya. Ruangannya sudah rapi dan kulihat Nick yang sedang duduk ditepi temapt tidur. Aku melihat kesekeliling ruangan dan tidak ada seorang pun disana kecuali Nick dan ia sudah mengganti seragam rumah sakit dengan T-shirt polos berwarna biru dan celana jeans. Aku melihat wajahnya yang lebih segar dari biasanya. Kaktus dan beberapa bunga sudah tidak berada lagi ditempatnya. Aku menghampiri Nick dan duduk disebelahnya.
"How are you?" tanyaku.
"I'm great."
Aku mengangguk. Lalu aku mengambil syal dan jaket di atas sofa. "are you ready to go home now?"
"Not now."
Aku mengerutkan kening. "So when? Doctor said that you..."
"Sarah..." Nick memotong ucapanku. "I want to go to somewhere. Do you want to go with me?"
"Where? Nick you must take some rest."
"Please, dear..." Nick memasang wajah memelas. Aku berfikir untuk beberapa saat dan akhirnya aku bilang "ok."
Nick tersenyum lebar mendengar persetujuanku. "Ok. Let's go."
Nick mengambil syal dan jaketnya dari tanganku lalu ia mengenakannya.
Nick membawaku kesebuah taman yang letaknya cukup jauh dari rumah sakit. Taman yang sangat bagus. Banyak pepohonan yang tumbuh disana. Walaupun sebagian besar ditutupi salju tapi ini luar biasa. Aku belum pernah ke taman ini. Nick mengajakku berjalan di sepanjang jalan setapak di sekitar taman. Kalau sedang musim semi pasti bagus sekali. Sesekali udara dingin menyentuh wajahku. Aku memasukkan kedua tanganku ke saku jaket. Hal yang paling bodoh yang sering aku lakukan adalah tidak membawa syal. Tapi aku tidak memedulikannya karena aku masih terkesan akan tempat ini.
"How?" tanya Nick yang seketika membuyarkan lamunanku. Aku baru menyadari Nick sedang bersamaku.
"Great!"
Nick tertawa melihat ekspresiku. Sepanjang jalan kami tenggelam dalam keheningan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku mengajak Nick untuk duduk di bangku taman yang berada dibawah pohon yang cukup besar. Nick membersihkan tumpukan salju diatas bangku itu lalu mempersilahkanku duduk.
"Nick, how do you know this place?"
Nick mengerutkan keningnya. "Don't you want to go to here? You said that before."
Oh my God!! "aahh, i forgot. i'm happy that you still remember."
Nick hanya tersenyum. "Of, course. But when will you open your gallery? I had not been there."
Galeri?? Hei, aku mana punya galeri, teriakku dalam hati. "mmm... i don't know. i'm not interest about it."
"Not interest??"
"Yeah..."
"you're little weird. You've changed a bit."
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Udara dingin kembali menerpa wajahku. Aku bergidik karena dingin. Nick melihatku dan tertawa kecil. Nick melepaskan syalnya dan melingkarkannya di leherku.
"No.." aku melepaskannya kembali. "you must wear it. you've just recovered"
"No.. you wear it. Look your face. it's looks like a cotton."
"I'm ok... wear it" Aku melingkarkan syal itu ke leher Nick. "Don't argue me!" kataku begitu aku melihat Nick ingin melepasnya kembali.
"Ok, ok.." kata Nick mengalah. "But are you ok?"
"Sure."
Tiba-tiba saja Nick menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Nick, What are you doing?"
" Just for a while.. Can you stay like this just for a while?"
Aku tertegun. Nick kamu salah. Aku bukan Sarah. Aku bukan orang yang kamu harapkan, bukan orang yang kamu sayangi, bukan ornag yang selayaknya mendapatkan kehangatan kamu seperti ini. Orang itu sudah pergi jauh Nick. Air mataku mulai menetes. Secepatnya aku menghapusnya. Aku tidak bisa membiarkan ini lebih jauh. Aku tidak ingin melukai Nick lebih jauh. Ini sudah cukup.
"Nick, i want tell you something"
"what? say it."
"I'm not Sarah."
Nick mengangkat kepalanya. Aku menunduk, aku tidak punya keberanian untuk melihat matanya. "What do you mean?"
"I'm not Sarah, your fiancee. I'm Fairy."
"I'm still not understand. Sarah, don't be like this. You are Sarah, my dear.."
Aku beranikan diri untuk menatap Nick, melihat matanya yang biru. "sarah has died. I became Sarah just for your sake. And now it's over. I won't hurt you anymore and i won't to be liar, Nick. I'm sorry... So sorry..."
Air mataku menetes. Aku melihat Nick juga meneteskan air matanya. "Please Sarah, don't be like this. I love you so much.."
"Please Nick, believe me..." Aku terisak.
Nick diam untuk beberapa saat dan aku melihat air matanya terus mengalir. "Nick...I'm sorry.."
Nick berdiri dan berjalan begitu saja meninggalkanku. Aku mengejarnya dan meraih lengannya. Nick melepaskannya begitu saja.
"Don't ever touch me... How dare you.."
"Nick!!" aku memanggilnya tapi ia terus berjalan hingga menghilang dari pandanganku.
Kakiku lemas, dadaku sakit dan aku hanya bisa menangis ditengah udara yang dingin. Maaf, Nick... maaf...
Langganan:
Postingan (Atom)